tegas kepada anak - Tegas Kepada Anak

Tegas Kepada Anak

Alhamdulillah Collaborative Blogging bareng teman-teman dari Kumpulan Emak Blogger (KEB) memasuki season baru. Saya masih berada di tim Siti Nurbaya yang berubah formasi. Tema untuk tulisan pertamanya adalah tentang “Tegas Kepada Anak” yang triggernya ditulis oleh Mak Myra Anastasia.

Well, sebagai orang tua baru rasanya saya belum terlalu paham tentang bagaimana caranya tegas kepada anak. Jujur saja baru terpikir justru setelah tema ini akhirnya diangkat oleh tim kami. Mungkin karena anak saya masih balita, atau mungkin karena orang tua saya bukan tipe tegas yang kaku-kaku gimana gitu. Eh tapi bukannya ketegasan orang tua itu seharusnya sudah diterapkan sejak dini, ya?

Mengapa Harus Tegas Kepada Anak?

Namanya sama anak sendiri, tegas itu harus sih meskipun caranya berbeda-beda tiap orang tua. Yang aneh itu kalau kita tegas kepada anak orang lain. Lah?? 😀

Anak-anak adalah tanggung jawab orang tua. Kepribadiannya pertama kali terbentuk dari keluarga dan lingkungan sekitarnya. Apa jadinya kalau orang tua tidak tegas kepada anak? Sebetulnya tujuan tegas ini kan untuk kebaikan anak, misalnya untuk mendisiplinkan. Tahu sendiri dong, orang yang disiplin akan memiliki value lebih daripada yang tidak disiplin.

Terus kalau sudah memiliki value, manfaatnya buat siapa? Apa biar kita dibilang hebat telah berhasil mendidik anak? Ya bukan gitu sih, jadi orang tua pastinya akan bangga banget. Tapi manfaat yang paling utama ya untuk anak itu sendiri.

Lalu apakah saya tegas kepada anak? Duh, memandang wajahnya yang bagai malaikat itu gengs, rasanya kok ya susah banget untuk menolak apa yang ia minta. Luluh begitu saja hati ini, cemana dong? Kalau saya lagi tegas, dia mengadu ke bapaknya lalu diberi kelonggaran. Sebaliknya juga begitu. Tapi eh tapi doi belum pernah ngadu ke neneknya, padahal sang nenek akan lebih lebiiih longgaaaar sekali hahaa alhamdulillah deh jadi enggak nyusahin nenek.

Memberi Kepercayaan atau Kebebasan?

tegas kepada anak

Ketegasan orang tua terhadap anak tidak akan berhasil dalam satu atau dua hari. Semua butuh proses. Adapun caranya juga beragam. Ada orang tua yang tegasnya benar-benar tegas, disiplin banget kayak sekolah militer. Ada juga yang tegas melalui perilaku yang lebih lembut, sehingga anak tidak sadar akan ketegasan tersebut.

Saya dan suami mungkin bukan di kategori pertama, berusaha tegas tapi tetap mempertahankan style orang tua yang santai dan gaul hahahaha. Soalnya si Hammam suka melow sih, jadi kami menyesuaikan diri aja. Yang penting cara ini bisa bikin dia mengerti dan ehem, menurut.

Salah satu contoh, setiap ke minimarket Hammam boleh minta dibelikan apapun tapi cuma 1 item. Suatu hari ceritanya anak ini lagi sweet banget, sampai-sampai saya pengin beliin dia es krim. Sebelum ke minimarket katanya “Hammam mau beli biskuit, mih.” gara-gara habis lihat iklan biskuit. Sampai di minimarket dia langsung milih biskuit yang dia mau. Tapi kan saya sudah janji mau beliin dia es krim, lalu kita buka dong pintu freezernya.

Eh bukannya langsung ambil es krim cokelat kesukaannya dia malah bilang “Hammam mau es krim aja, mih. Biskuit gak jadi.” Nah loh, kok jadi makin sweet. Saya beliin dua-duanya hahaha, maklum baru cair invoice juga. *Eeeh.

Intinya kami memberikan kepercayaan, agar ia bisa memilih sesuatu yang paling disukai. Bahwa yang dia sukai itu pasti bermanfaat untuk dirinya, dalam hal makanan atau minuman pasti akan habis dikonsumsi. Dengan begitu apakah kami jadi tak memberi kebebasan? Ya bebas dong, kalau enggak bebas mah dia enggak bisa memilih apa yang dia mau.

Baca juga : Memahami Kesukaan Si Kecil untuk Mengalihkan Perhatiannya

Menumbuhkan Rasa Bertanggung Jawab

Ok, Hammam mungkin masih terlalu kecil untuk mengerti apa itu tanggung jawab. Tapi seperti yang saya bilang tadi, semua butuh proses. Dan proses itu kami mulai dari sekarang. Meski rada nyantai, namanya orang tua tetap sih ya menanamkan nilai-nilai kebaikan hidup. *Tsaaah.

Kalau dari pengalaman saya semasa kecil, rasa percaya yang diberikan oleh orang tua akhirnya menumbuhkan rasa bertanggung jawab. Kepercayaan itu justru telah membuat saya takut dengan sendirinya. Bukan takut karena orang tua saya kejam. Tapi takut kalau melanggar berarti saya telah menodai kepercayaan yang telah diberikan, berarti saya bukan anak yang bertanggung jawab. Saya takut besok-besok enggak dipercaya lagi.

Mungkin di sini orang tua juga perlu memiliki wibawa, ya. Kayaknya wibawa itu deh yang bikin kita nurut sama orang tua, ya enggak sih? Dibilang ‘jangan telat pulang sekolah’ ya nurut karena emang enggak pernah melihat orang tua terlambat pulang ke rumah. Mungkin beda cerita kalau yang nyuruh adalah orang tua yang jarang di rumah, suka enggak nepatin janji sama anak, cuek sama keluh kesah anak, sering memaksakan kehendaknya terhadap anak, suka ribut sama pasangan, dan lain-lain.

Menyikapi Perbedaan Aturan di Rumah

Saya masih tinggal di rumah Ibu. Mungkin sama dengan keluarga lain yang tinggal serumah dengan orang tua, pasti ada saja perbedaan pendapat tentang pola asuh anak. Salah satu yang pernah saya alami adalah aturan jam tidur si kecil. Dulu saya usaha banget  mendisiplinkan untuk tidur maksimal jam 10 malam. Jam 9 sudah masuk kamar, jangan keluar lagi sampai pulas. Tapi apa, ini ditentang sama ibu saya. “Liat aja tuh matanya masih seger begitu, gimana bisa tidur?” Huhuhuhuuuu.

Sebal sih, dikit. Tapi yang kayak gini jangan dijadikan alasan untuk keterusan sebalnya. Kasih aja alasan kenapa kita pengin anak tidur cepat, ya karena kita ini capek banget seharian jagain dia. Anaknya juga pasti lah butuh istirahat. Meskipun pada akhirnya si Hammam gagal disiplin tidur cepat hahahahaaa. Soalnya lebih capek maksain dia tidur ketimbang nemenin dia main seharian. Belum lagi dramanya. Duh, ya kita pilih yang membahagiakan semua pihak aja lah.

Pokoknya kalau ada perbedaan pendapat dengan orang tua atau mertua, sebisa mungkin dijelaskan alasan kita membuat peraturan yang mereka komplain itu. Bahwa sekarang zaman udah beda, anak harus terlatih untuk disiplin, karena kalau enggak dia jadi sulit bersaing di kemudian hari, enggak bisa bikin kakek dan nenek bangga. Ya gitu deh pikirin sendiri alasannya. LOL.

***

Sebagai orang tua baru saya pasti akan mendapat banyak kejutan ketika nanti ketegasan itu bertemu dengan perlawanan. Tapi mari kita berproses sama-sama. Menjadi orang tua yang baik, untuk anak-anak yang lebih baik.

Salah satu pelajaran menjadi orang tua saya dapat dari Mak Myra Anastasia. Ada 5 hal yang perlu dilakukan ketika tegas kepada anak. Artikel lengkapnya bisa dibaca pada website KEB ya, gengs. Terima kasih sudah mampir, nantikan tema Collaborative Blogging berikutnya. Jangan lupa share di kolom komentar tentang bersikap tegas kepada anak. Supaya saya nambah ilmu hehe.

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

7 thoughts on “Tegas Kepada Anak

  1. Dina says:

    Saya dan suami tegas terhadap anak,tapi tegasnya ttp ada levelnya,kadang kalau rewelnya sudah keterlaluan trpaksa untuk marah.nanti kalau dia sudah tenang baru di peluk dikasih tau pelan-pelan..kadang kalau kita terlalu lembek gak bagus juga buat anak,takutnya dia nya nanti kurang hormat dgn orang tua bahkan ke org yg lbh tua 😦 tujuan nya tidak jauh dari mengajari anak disiplin,bertanggung jawab 🙂

    • Dzulkhulaifah says:

      Mungkin karena suami telah dididik dengan metode yang sama ya. Bisa jadi kalau ortu kita yang bikin aturannya, pak suami gak setuju eh kitanya setuju sama ibu kita sendiri hahahahahhaaaa….

  2. Ucig says:

    Aku agak pucing mak klo lagi di rumah eyangnya.
    Nggak boleh nangis sedikit hihi
    Iya bener memang harus percaya tapi kadang suka langgar2 gimana gitu dia di usia tertentu. Mungkin mau nyobain melanggar aturan kali ya haaha

  3. Yosa Irfiana says:

    Makasih sharingnya ya Mbak.
    Iya setuju sekaliiii….
    Perbedaan aturan itu sering banget kita temui ya. Dulu awal-awal berumahtangga aku sama suami sampai bingung mau pakai aturan yang mana. Hehehe. Tapi alhamdulillah makin ke sini makin kompak. Tapi ya kalau orang tua lagi datang, heyaaa… aturannya lembek lagi.

  4. Yunita says:

    Aku suka penutupnya, Mak. Mari jadi orang tua yangvbaik demi anak yang lebih baik. Terima kasih tipsnya, berguna banget untuk perempuan yg masih single sepertiku, bagaimana cara mendidik anakku nanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *