Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

Nggak kekinian kalau nggak punya akun social media. Dari desa sampai kota, Sabang sampai Merauke dan seluruh penjuru dunia. Tua maupun muda, sampai anak-anakpun sudah punya akun. Bahkan ada juga hewan peliharaan yang dibuatkan akun social media oleh pemiliknya. Superb!

Social-Media

Photo : Pexels.com

Social media (Socmed) adalah sarana bagi pengguna internet untuk bersosialisasi satu dengan lainnya. Dari Socmed dapat terjalin pertemanan dan komunitas baru. Bahkan belakangan bisa juga terjalin permusuhan gara-gara Socmed. Tapi kalau yang ini jangan ikut-ikutan, ya.

Tujuan penggunaan Socmed pun beragam. Ada yang bikin akun Socmed hanya sekedar punya-punyaan saja, biar nggak ketinggalan jaman. Tapi ada juga yang punya tujuan tertentu seperti untuk jualan atau promosi. Ada orang yang merasa cukup punya satu akun, ada lagi yang harus banget punya beberapa akun. Akun pribadi, akun jualan, akun anaknya, akun hewan peliharaan dan seterusnya.

Sebagai media untuk berbagi, saat ini Socmed juga telah dialihfungsikan sebagai tempat untuk (katanya) dokumentasi. Ya dokumentasi foto, video, curhatan dan sebagainya. Karena foto di smartphone dianggap ‘menuh-menuhin’ memory. Seolah foto dan video itu yang salah kalau gadgetnya full of space. Lha, gadget-gadget sendiri. Salah siapa foto-foto mulu.

Secara pribadi saya menggunakan Socmed untuk berbagi serta memuaskan hasrat sebagai seorang yang gemar menulis dan memotret. Baik itu melalui status Facebook atau melalui foto via Instagram—yang sebisa mungkin diberi caption terkait foto yang di-upload. Dan tentu saja sebagai sarana untuk mempromosikan blog saya ini. Yang jelas, tujuan saya menggunakan Socmed bukan untuk backup foto-foto.

Tapi semuanya kembali ke masing-masing individu kok. Mau menggunakan Socmed sebagai tempat berbagi atau tempat menyimpan foto dan video ya sah-sah saja. Asalkan perhatikan hal-hal yang menjadi etika ber-social media.

Social Media Untuk Berbagi

Misalnya nih, ada orang bilang Socmed jadi tempat dokumentasi—jadi kalau foto-foto hilang bisa cari lagi di Socmed. Nah bagi saya, posting ya posting saja. Yang lalu biarlah berlalu, ngapain dicari-cari lagi. Dan ngapain juga bercita-cita ‘akan kehilangan foto-foto suatu saat nanti’. Makanya, sedia payung sebelum hujan dong. Backup foto secara berkala ke tempat penyimpanan yang lebih safety.

Dan kalau dari namanya saja ‘berbagi’, berarti saya dan sahabat dunia maya lainnya yang memiliki tujuan sama dalam pengguanaan Socmed telah sepakat tidak akan mengungkit-ungkit lagi apa yang sudah diposting. Jadi ikhlaskan saja, nggak usah dicari-cari lagi (kecuali memang kepepet).

Tapi meski demikian, bukan berarti menjadi wajar kalau kita sharing segala sesuatu di Socmed. Dikit-dikit update status, dikit-dikit posting foto. Apalagi kalau cuma status alay, tiap lima menit status kita muncul di timeline bisa-bisa kita di-unfollow atau unfriend. Jangan sampai dong ya.

So, here are tips yang menurut saya bisa dijalankan untuk berbagi di Socmed. Agar apa yang kita bagikan selain bisa bermanfaat bagi orang lain juga bisa menarik perhatian. Ya, biar bagaimanapun nalurinya manusia itu kan senang diperhatikan, ya nggak?

Posting Berita Terkini

Yang dikatakan berita terkini adalah informasi yang baru-baru ini terjadi. Jika kita senang berbagi berita-berita yang sedang happening, harap dipastikan dulu ya bahwa berita yang kita sebarkan itu benar adanya. Kalau masih ragu-ragu soal kebenarannya sebaiknya nggak usah dishare saja. Daripada bikin orang resah dan gelisah.

Boleh-boleh saja share berita terkini seputar diri kita sendiri, misalnya foto pernikahan, kelahiran bayi bahkan foto jalan-jalan sekalipun. Sertakanlah caption yang mendukung dan cerita di balik foto tersebut. Misalnya kalau mau share foto pernikahan bisa disebutkan wedding organizer atau vendor-vendor yang terlibat dalam acara tersebut. Atau untuk foto liburan silahkan mention trip organizernya, sekalian tips jalan-jalan juga boleh banget.

Social-Media

Ihik, jumlah likenya dikit. Eh tapi yang ngelike itu akun-akun dari luar negeri 😛

Menguasai Topik

Kadang pusing juga kalau di timeline isinya dia-dia lagi yang share postingan dari portal-portal berita. Selain harus memastikan kebenaran suatu berita, sangat penting bagi yang memposting tersebut untuk menguasai topik yang ia lempar ke publik. Jangan sampai nih, sudah headline-nya bernada provokasi, eh terus yang bikin status gelagapan waktu diserang sana-sini.

Duh, hidup ini sudah susah. Niat hati punya Socmed biar ada hiburan, yang terjadi malah sebaliknya. Kalau mau share tuh mbok ya berita yang membahagiakan gitu loh. Biar yang baca pada mesem-mesem kesenengan.

Konten Menarik

Andaikata Socmed itu lingkungan tempat kita tinggal, berarti teman-teman Socmed adalah para tetangga kita. Jadinya wajar saja kalau kita hanya membolehkan tetangga melihat hal-hal yang memang pantas dilihat.

Ibaratnya, tumpukan pakaian kusut yang belum disetrika mah nggak usah ditaruh di depan rumah. Don’t know why saya menggunakan perumpamaan ini. Soalnya saya kok ya nggak sreg banget kalau ada yang posting tumpukan baju-baju kusut begitu. Hahahaha. Kecuali…

Social-Media

Photo : Pexels.com

Kecuali kalau kita bisa membuat caption yang menarik dari sebuah foto yang tidak menarik. Misalnya TIPS nyetrika baju supaya cepat licin dan rapi. Nah, informasi yang kayak gini kan dibutuhkan banget sama para ibu demi menghemat waktu.

Hindari Expose Berlebihan

Pernah dengar nggak, ungkapan ‘Berdo’alah pada Allah, bukan pada Facebook’. Menurut saya silahkan saja mau update status untuk mengungkapkan perasaan dan harapan kita terhadap sesuatu. Yang penting jangan lebay. Lebay yang kayak apa? Duh banyak banget penghuni Socmed yang lebay itu, sampai susah disebutkan satu-satu.

Social Media topic 1024x420 - Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

Photo : Pexels.com

Tapi yang paling meresahkan adalah mereka yang posting foto-foto jenazah. Ya ampun itu orang punya perasaan atau nggak, ya? Kebayang nggak sih rasanya jadi keluarga yang ditinggalkan kalau lihat foto-foto itu. Sangatlah tidak bijak kalau kita memposting foto seseorang dalam keadaan telah meninggal dunia. Apalagi foto-foto korban kecelakaan. Please, stop it!!!

Jika tujuan bersocial media adalah menebar manfaat, maka perbuatan di atas tidak ada manfaatnya sama sekali. Cukuplah dengan update status saja, minta dido’akan untuk seseorang yang telah tiada itu agar diampuni dosa-dosanya, dilapangkan kuburnya.

Sesuai Kenyataan

Meskipun kenyataan selalu jauh dari harapan, tetapi yang namanya kebenaran selalu berbeda dari kebohongan. Postinglah sesuatu yang sesuai dengan kenyataannya, tidak dibuat-buat apalagi dilebih-kurangkan. Kita sendiri yang rugi kalau berpura-pura. Ya, meski hanya kebohongan di dunia maya, hidup mah punya cara sendiri untuk memperlihatkan yang benar dan salah.

Jadi nggak perlu lah mengakui hal-hal yang aslinya bukan milik kita, padahal hanya mau dibilang keren saja. Jangan ya….

Saling Menghargai

Kalau sudah memenuhi seluruh tips di atas agar bersocial media menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menguntungkan, terakhir yang harus kita jaga adalah perasaan orang lain. Setidaknya perasaan orang-orang dekat kita.

Social Media hands 1024x415 - Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

Photo : Pexels.com

Memang sulit sekali membendung keinginan untuk tidak memposting sesuatu yang sangat ngehits menurut kita, sedangkan ada perasaan orang lain yang mungkin terluka. Misalnya kita baru melahirkan dan anak kita lucunya nggak ketulungan. Serasa setiap posenya mau kita abadikan dan posting di Socmed, anytime.

Sementara kita tahu, ada di antara teman kita yang baru-baru ini harus kehilangan anaknya. Lalu kita menutup mata “Ah, ini kan Instagramku. Ya terserah dong aku mau posting apaan, kek.”

No, you have to think twice about it. Justru karena itu adalah Instagram milik kita pribadi—yang isinya sedikit banyak adalah cerminan dari diri kita sendiri, maka pergunakanlah sebaik-baiknya. Hargailah perasaan kawan-kawan yang tidak seberuntung kita. Insya Allah, perbuatan menghargai ini akan kembali lagi pada diri kita suatu saat nanti.

Social Media Untuk Dokumentasi

Banyak sekali anggapan bahwa memposting foto seabrek-abrek di social media adalah salah satu cara mem-backup foto-foto. Well, memang tidak ada salahnya sih orang mau dokumentasi dengan cara apapun. Tapi yang saya penasaran sebetulnya mereka tau nggak ya kalau dokumentasi model begini betul-betul aman atau justru membahayakan?

Karena sudah banyak kejadian penyalahgunaan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan foto-foto dari Socmed. Mulai dari memanfaatkan foto bayi untuk penipuan, hingga kasus penculikan anak. Ya ampun semakin ngeri saja ya. Makanya harus ekstra hati-hati.

Ok, jika memang kekeuh mau dokumentasi dan menjadikan Socmed sebagai sarana backup foto atau video, ada hal-hal yang harus diperhatikan loh. Jadi jangan sembarangan main upload seada-adanya.

Buatlah Album

Untuk memudahkan ketika akan mencari kembali foto-foto lama, buatlah album sesuai dengan kategorinya. Seperti album liburan, ulang tahun, kehamilan dan lain-lain. Facebook adalah social media yang mendukung untuk pembuatan album foto.

Social Media

Foto saya di Facebook juga banyak sekali. Rapi tertata di dalam album foto.

Jika tujuan memposting adalah dokumentasi, hindari posting foto di timeline karena akan tertimpa foto-foto baru. Sehingga ketika mau dicari lagi jadi agak susah karena sudah menumpuk fotonya. Album foto di Facebook juga bisa disetting private atau seen by specific friends. Sehingga hanya pemilik dan atau orang-orang tertentu saja yang bisa melihat foto-foto yang katanya untuk dokumentasi itu .

Kalau punya banyak koleksi video, upload-lah ke Youtube dengan konsep yang sama seperti membuat album dan privacy di Facebook.

Gunakan Notes

Ada yang suka banget curhat di social media? Siapa tahu curahan hatinya ini mau didokumentasikan juga, gunakanlah fitur Notes di Facebook. Suatu saat mau dibaca lagi, gampang banget tinggal buka notes-nya. Notes juga sifatnya sama seperti album foto yang bisa diatur tingkat privasinya.

Misalnya lagi galau, pingin baca-baca postingan lama bahkan pingin di-share lagi postingan tersebut, very very easy to do. Tapi kalau memang suka nulis, mendingan sih bikin blog saja, Kakak 😀

Social Media create 1 1024x429 - Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

Photo : Pexels.com

Hastag Unik

Salah satu tujuan penggunaan tanda pagar/tagar/hastag adalah untuk mempermudah pencarian topik tertentu atau bisa sebagai keyword. Jika ingin lebih mudah menemukan foto, maka setiap upload foto sertakan hastag unik pada setiap foto. Unik, seolah hanya kita saja yang tahu keyword tersebut. Gunakanlah setidaknya 2 hastag, contoh #diaryemakrempongtapihits #curhatjangancurhatjangan. Tapi jangan sampai lupa sama hastag yang kita ciptakan itu.

By the way 2 hastag tadi sudah saya cari di Facebook dan nggak ketemu. Jadi kamu boleh kok pakai hastag itu hihi.

Resolusi Foto

Kamu harus tahu, bahwa foto yang di-upload ke Socmed akan dipangkas resolusinya. Sehingga jika foto yang sudah di-upload  tersebut ingin di-download kembali, resolusinya tidak akan sama lagi dengan foto yang pertama kali kita miliki. Jadi, sayang banget.

That’s why saya nggak mengandalkan Socmed sebagai tempat untuk dokumentasi. Saya lebih suka pakai cara konvensional, investasi hardisk eksternal khusus untuk koleksi foto dan video yang jumlahnya udah nggak kehitung lagi. Juga dirasa lebih aman karena hanya bisa diakses sama diri sendiri dan orang-orang yang dikehendaki saja. Simpannya juga di rumah, aman pokoknya.

Social Media storage 1024x399 - Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

Photo : Pexels.com

Online Storage

Jika untuk memiliki eksternal storage dirasa mahal, silahkan gunakan online storage yang sekarang sudah tersedia dimana-mana dan gratis pula. Salah satu yang biasa saya gunakan adalah google drive. Disini bisa juga dibuat per folder dan tingkat privasi bisa disesuaikan.

Tidak hanya foto atau video, file-file penting bisa sekalian diupload. Jadi ketika dibutuhkan tinggal klik-klik, urusan cepat beres.

Semoga tips ini bisa membantu teman-teman sekalian, terutama para emak-emak yang rajin banget posting foto anak-anak dengan alasan dokumentasi. Jangan lupa ya, pikirkan hastag yang paling unik sedunia 😀

Artikel ini dibuat dalam rangka Colaborative Blogging KEB yang minggu ini temanya tentang Social Media. Silahkan kunjungi tulisan pertama Suciati Cristina berjudul Social Media? Untuk Apa? yang tayang di website Kumpulan Emak Blogger, klik disini.

Kedepannya, secara berkala saya dan teman-teman blogger di kelompok Siti Nurbaya akan berkolaborasi dalam menulis artikel tentang satu topik yang sama. So, tungguin ya tulisan berikutnya.

wp image 2126006169 - Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

This is my new gank 😉

Terima kasih sudah mampir 😉

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

18 thoughts on “Social Media, Sarana Berbagi Atau Dokumentasi?

  1. Ucig says:

    Ulasannya.. lengkap 😀 itu nemu aja bikin hastag #curhatjangancurhatjangan 😅 lucuuu mak ev
    Socmed buat blogger, berarti pamer yg menghasilkan yaa ^^

  2. Dian Restu Agustina says:

    ulasan yang lengkap, Mbak . TFS:)

    Saya sama, socmed buat berbagi, bukan jadi ganti album poto atau sekedar curhat kegalauan hati plus paling anti share yang membabi buta tanpa ngecek dulu kebenarannya..:D

  3. Ika Puspitasari says:

    Sosmed memang bagai dua mata pisau, kalau tak bijak menggunakannya kita bisa terjerumus.
    Makanya sayaa juga hati2 banget nih dalam menggunakannya. Biasanya paling banyak hanya untuk urusan pekerjaan dan hobi.

  4. ina says:

    lengkap banget tulisannya.
    kalau saya mah untuk jualan dan mengikuti gosip yang terjadi di negeri ini 🙂

    Bagaimana kalau untuk jualan dan mencari nafkah Mbak?

    terima kasih dan salam kenal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *