Ketika Profesi Kita Dipandang Sebelah Mata, #SMiLeinAja

Tantangan dalam hidup kita tidak selalu hadir dengan sendirinya. Terkadang kita sendiri yang mencari-cari tantangan itu untuk kita hadapi. Tapi betul tidak ya, kalau tantangan harus dihadapi dengan senyuman? Bagi saya justru “Menghadapi tantangan dengan #SMiLeinAja” merupakan tantangan baru lagi. Coba, menghadapi tantangan saja sudah sulit. Nah ini harus pakai senyum pula. Tantangan di dalam tantangan kan, itu namanya?

SMiLeinAja

Saya dibesarkan di keluarga penjahit. Sebenarnya sejak kecil saya sudah akrab dengan mesin jahit. Saya bisa mengoperasikannya dengan baik. Bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar saya menjahit sendiri baju dan celana berukuran kecil, sebagai tugas kerajinan tangan. Tapi saya tidak bercita-cita jadi penjahit. Saya maunya kalau sudah besar itu kuliah, lalu kerja kantoran.

Sebagai orang tua, tentu Ibu saya mendukung keinginan saya ini. Meskipun beliau hanya penjahit dan pedagang kecil, nampaknya Ibu sangat ingin mewujudkan keinginan saya. Sebenarnya sejak SD biaya sekolah saya ditanggung oleh sebuah Yayasan Sosial. Karena saya adalah anak yatim yang ketika itu secara kolektif bersama teman-teman dari keluarga kurang mampu di satu sekolah mendapatkan santunan sampai dengan sekolah menengah atas.

Lalu bagaimana dengan kuliah saya? Ini dia tantangan terbesar yang pertama kali saya ambil dimasa itu. Saya kekeuh mau kuliah soalnya nggak mau disuruh nikah muda. Hahahaha. Beranjak besar cita-cita saya masih sama. Ingin kuliah dan kerja kantoran. Saya tidak mau hanya duduk di balik mesin jahit seperti Ibu dan semua kakak saya. Berangkat dari keinginan itu, maka masuklah saya ke sebuah universitas atas biaya Yayasan Sosial, dengan potongan harga limapuluh persen.

Saya mendapatkan nilai yang baik sampai smester kedua. Lalu, ibu panti—panggilan saya kepada ketua yayasan—memanggil saya untuk menghadap. Beliau memberitahukan bahwa ibu angkat saya—yang biasa membiayai sekolah saya—telah meninggal dunia. Sedangkan di panti asuhan banyak anak-anak asuh yang baru masuk, mereka masih kecil-kecil dan diutamakan dalam pendidikan. Maka biaya pendidikan untuk saya terpaksa dihentikan. Bagaimana ini? Saya baru akan memasuki smester ketiga, perjalanan masihlah jauh. Haruskah saya berhenti kuliah? Atau kuliah sambil bekerja?

Akhirnya Ibu saya yang super baik menantang dirinya sendiri dan menyuruh saya agar tetap melanjutkan kuliah. Beliau akan mengupayakan segalanya sampai kuliah saya selesai. Maka berlanjutlah pendidikan saya dengan segala keterbatasan biaya.

Biasanya saya baru bisa bayar kuliah menjelang akhir batas waktu. Dimana teman-teman lain sudah bisa mengisi KRS (kartu rencana studi), memilih mata kuliah, dosen dan jadwal, saya belum bisa. Masih harus menunggu Ibu saya kasih uang untuk ‘bayaran’. Pernah saya bertemu dengan teman di bank ketika mengantri di teller, kami sama-sama akan membayar uang kuliah. Bedanya saya mau bayar uang smester, sedangkan dia mau bayar tambah SKS. Saya jelas ketinggalan jauh.

Jarang kebagian dosen favorit,  jadwal kuliah yang acak-acakan. Kadang mata kuliah pertama jam 8-11 pagi. Lalu mata kuliah berikutnya jam 5 sore. Bagi sebagian orang ini amatlah tidak efektif. Untungnya saya gabung di organisasi jurusan, sehingga waktu kosong bisa dimanfaatkan dengan bersosialisasi dan menambah wawasan.

Biaya juga yang jadi alasan saya harus menunggu smester delapan untuk skripsi. Padahal teman-teman sudah mengambil skripsi di smester tujuh. Disaat teman-teman sudah memulai karirnya di dunia kerja, saya masih berstatus mahasiswi. Tapi saya tidak pernah menyesali hal ini. Saya percaya bahwa setiap hal sudah diatur waktunya.

Setelah lulus kuliah, tantangan yang datang adalah bersaing dengan ribuan pencari kerja. Saya sempat bekerja sebagai call center untuk salah satu provider seluler selama enam bulan. Lalu bekerja di sebuah restoran selama lebih dari enam tahun. Tantangan yang saya hadapi kian hari kian bertambah, seiring dengan meningkatnya jenjang karir. Mulai dari admin, accounting, business development dan terakhir saya ditunjuk sebagai asisten general manager. Disini saya belajar banyak hal dan dituntut untuk bisa melakukan berbagai tugas. Pada akhirnya saya menguasai berbagai job description yang tidak ada hubungannya dengan mata kuliah. Mulai dari marketing sampai dengan legal perusahaan. I’d do everything, untuk sebuah tujuan ‘merubah hidup’.

Ya, hidup memang bisa berubah seiring dengan perjuangan yang kita lakukan. Tapi kemudian saya memutuskan untuk resign, lalu punya anak dan sekarang saya malah jadi penjahit. Sebuah pekerjaan yang dulunya tidak saya inginkan. Karena entah sejak kapan, saya merasa menjahit itu keren. Mungkin dulu saya hanya menyangkal perasaan saya sendiri—tidak mau jadi penjahit. Sok-sokan mau memilih jalan yang berbeda dari saudara-saudara saya yang lain. Jalan yang lebih baik daripada menjahit—menurut saya. Padahal sebenarnya bakat itu mungkin sudah tertanam di jiwa saya. Dan menjahit adalah salah satu pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita saya yang baru. Yaitu ingin sepenuhnya membesarkan anak saya di rumah tetapi tetap produktif.

#SMiLeinAja
mom’s dress and kid’s batik shirt by Dzulkhulaifah

Karena saya adalah seorang sarjana tetapi memutuskan tidak bekerja kantoran lagi, tentu ada pertanyaan dari tetangga atau siapapun “Punya ijazah sarjana kok malah jadi penjahit.” seolah pekerjaan menjahit masih dipandang sebelah mata saja. Padahal banyak loh penjahit yang sukses, Anne Avantie misalnya. Well, saya memang tidak sehebat Bu Anne, jauh banget malah. Tapi siapa tahu kan, someday saya juga punya karir yang bagus di dunia jahit-menjahit.

#SmiLeinAja

Begitulah hidup ini, setiap cita-cita baru, tentu ada tantangan yang baru pula di dalamnya. Kalau saya melihat lagi kebelakang, sepertinya tantangan itu ternyata bisa ya dihadapi dengan senyuman. Buktinya semasa kuliah dulu, meskipun ada hambatan biaya, saya tetap fun menjalani perkuliahan. Saya adalah mahasiswi yang bahagia di kampus. Tidak punya musuh, tidak suka bolos apalagi mencontek—iya ini beneran loh. Hehe. Punya banyak teman, dari yang seangkatan, kakak-kakak senior sampai adik-adik junior. Semua dosen baik juga sama saya. Pokoknya tidak ada alasan untuk tidak bahagia. Fokus saya adalah bisa lulus tepat waktu dan mengejar cita-cita ‘kerja kantoran’.

Di dunia kerjapun seperti itu. Sejujurnya saya suka dengan tantangan yang setiap kali selalu diperbaharui. Berhadapan dengan bos besar selalu menjadi tantangan paling ngeri selama saya bekerja. Haha. Tapi saya berterima kasih sama beliau, saya masuk kerja dulu dari belum mengerti apapun, pak bos ajarkan saya hingga bisa menguasai semuanya. Menjadi kaki tangannya, mata telinganya. Duh, saya kok ya bangga banget jadi asistennya si Bapak. Saking bangganya, sering ada yang bilang gini ke saya “Kamu sarjana kok kerja di restoran?”, malah ada yang bilang gitu dengan tatapan kasihan. Tapi saya cuma #SmiLeinAja. Anggap saja mereka tidak tahu dengan apa yang mereka katakan.

#SMiLeinAja
Status facebook 7 tahun lalu.

Memangnya kenapa sih kalau saya kerja di restoran? Kalau kamu pikir di restoran itu adanya cuma kasir, waiter/waitress dan cleaning service, please deh kamu mainnya kurang jauh. Lagian sekalipun saya cuma kasir atau waitress ya kenapa ya? Itu toh pekerjaan halal.

Nah, kan. Ternyata tantangan apapun bisa loh ya dihadapi dengan senyuman. Jangankan untuk menghadapi tantangan, menantang diri sendiri saja sebenarnya kita mampu, kok. Yang terpenting fokus terhadap apa yang kita impikan, percaya bahwa mimpi itu nyata dan pasti terwujud. Sisanya biarlah berjalan dengan sendirinya dan #SMiLeinAja.

Yang menjadi fokus saya sekarang adalah pada produksi dan pemasaran sprei bedcover, usaha yang sedang saya rintis sejak setahun lalu. Saya memilih bekerjasama dengan salah satu market place home living Indonesia dalam pemasarannya. Memang membebani sejumlah fee untuk marketing. Tetapi juga jumlah order yang didapat lebih banyak daripada pemasaran sendiri. Dengan begitu income yang didapat semakin meningkat. Kedepannya saya berniat untuk mengembangkan bisnis ini agar mempunyai target pasar sendiri.

#SMiLeinAja

Giat melakukan promosi demi tercapainya target penjualan, alasannya selain untuk pengembangan bisnis dan memenuhi kebutuhan hidup juga untuk cadangan dana pendidikan bagi si kecil. Sekarang Hammam usianya hampir tiga tahun. Kemungkinan besar dalam dua tahun lagi dia akan masuk sekolah Taman Kanak-kanak. Tahu sendiri kan, masuk sekolah jaman kini biayanya mahal. Belum lagi tambahan biaya untuk kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan sekolah. Karnaval lah, porseni, manasik haji, wisuda sampai perpisahan sekolah. Semua ada hitungannya. Kemarin keponakan saya ada yang baru didaftarkan di TK favorit wilayah Cipadu, Tangerang. Mendengar sejumlah biaya yang harus dibayarkan, membuat saya buru-buru cek saldo tabungan.

uang seratus ribuan 1024x741 - Ketika Profesi Kita Dipandang Sebelah Mata, #SMiLeinAja

TABUNGAN PENDIDIKAN UNTUK SI KECIL

Sejak Hammam bayi saya sudah membuka tabungan atas namanya sendiri, secara berkala saya sisihkan pendapatan untuk biaya sekolahnya kelak. Juga uang lebaran Hammam setiap tahun, pemberian dari nenek dan saudara-saudara, serta uang koin yang awalnya masuk ke celengan, semuanya disetor ke rekening bank. Jumlah tabungannya sekarang mungkin bisa untuk ia mendaftar di TK. Lalu untuk masuk SD, dua tahun kedepan saya harus ngebut nih mengisi saldonya agar cukup ketika akan digunakan. Semoga sih diterima di SD Negeri. Tapi bagaimana ya untuk biaya masuk SMP, SMA, Perguruan Tinggi?

Saya baru berencana membuka tabungan pendidikan. Tujuannya agar dana yang ditabung tidak mudah dicairkan dan hanya bisa diambil pada waktu tertentu, menghindari uang terpakai untuk hal-hal selain pendidikan. Sebetulnya sudah agak terlambat, sih. Bank tempat Hammam buka rekening sudah menyarankan agar para orang tua membuka tabungan pendidikan bagi anak-anak sejak sedini mungkin. Tapi tidak ada kata terlambat jika kita mau berusaha untuk bisa.

Memiliki tabungan pendidikan sama saja kita berinvestasi untuk masa depan. Namanya juga investasi, apa yang kita lakukan saat ini akan berguna dimasa yang akan datang. Bicara soal investasi, saya tertarik untuk mengambil salah satu produk asuransi dari Sinarmas MSIG Life.

PT. SINARMAS MSIG LIFE

Berdiri 14 April 1985

PT. Asuransi Jiwa Purnamala Internasional Indonesia (PPI)

Berubah nama menjadi PT. Asuransi Jiwa Eka Life.

Tahun 2007

PT. Asuransi Jiwa Sinarmas

Tahun 2011

Joint Venture dengan Mitsui Sumitomo Insurance Co., Ltd.

Menjadi PT. Sinarmas MSIG Life

Tahun 2014

Melayani >790.000 nasabah individu di 69 kota.

113 kantor pemasaran

10.500 aparat marketing

Tahun 2015

Masuk 10 besar perusahaan dengan aset terbesar di industri asuransi jiwa (Rp. 15,65 triliun)

Pendapatan premi Rp. 6,95 triliun

Risk Based Capital (RBC) 466,46% (konvensional) dan 53,87% (syariah)

Hadir di kantor manajemen baru di Sinarmas MSIG Tower, Jl. Jendral Sudirman Jakarta.

Dinobatkan oleh Infobank sebagai Digital Brand of the Year 2015 Terbaik Ke-3 untuk kategori Asuransi Jiwa pada bulan Maret 2015.

Unit Bisnis Syariah Sinarmas MSIG Life didaulat sebagai sebagai Asuransi Jiwa Syariah Terbaik oleh Majalah Investor untuk Aset di atas Rp 200 Miliar pada Best Syariah 2015

Setelah saya browsing, asuransi yang paling sesuai dengan kebutuhan saya adalah Smile Multi Invest. Yaitu investasi jangka pendek dengan perlindungan jiwa yang maksimal. Manfaatnya antara lain :

  • Perlindungan mencapai 400% premi tahunan ditambah nilai tunai
  • Terlindungi selama masa asuransi
  • Bisa ditambah dengan asuransi tambahan

Pastinya karena reputasi yang baik PT. Sinarmas MSIG Life bisa berjaya dengan segala pencapaiannya. Sejak tahun 2013 Brand SmiLe (Sinarmas MSIG Life) mulai diperkenalkan kepada masyarakat dan mendapat pengakuan dari Infobank. Maka sudah tidak diragukan lagi kredibilitasnya dalam melayani asuransi masyarakan Indonesia.

Jangka waktu asuransi Smile Multi Invest adalah 8 tahun dengan pembayaran premi selama 5 tahun. Bisa langsung diambil pada tahun kelima atau maksimal tahun ke delapan. Kalau saya aktifkan asuransinya tahun ini, investasi bisa dicairkan di tahun ke 8 yaitu pada tahun 2025. Pas waktunya dengan usia Hammam yang akan masuk SMP. Asuransi bisa didaftarkan atas nama anak maupun orangtuanya. Bila premi selalu dibayar penuh sampai dengan akhir tahun kelima polis, maka di tahun kedelapan manfaat yang didapat adalah sebesar 675% dari premi tahunan.

Tentunya yang utama dalam mengambil produk ini adalah manfaat asuransinya yang jika nasabah meninggal dunia maka akan mendapatkan manfaat meninggal bagi keluarga yang ditinggalkan. Tetapi kita pasti mengharapkan yang terbaik. Sehat selalu dan panjang umur agar bisa menyaksikan anak-anak kita sukses. Makanya SmiLe Multi Invest juga bisa ditambahkan dengan asuransi tambahan, seperti Term Insurance, Critical Illness, Hospital Cash Plan Family Rider dan SMiLe Medical.

Lebih jelas tentang SMiLe Multi Invest silahkan klik disini. Atau silahkan berkunjung ke website dan social media SMiLe (Twitter, Instagram) untuk informasi lebih lanjut mengenai PT. Sinarmas MSIG Life.

PERLU DIPERHATIKAN

Dalam memilih perusahaan asuransi dan produk asuransi yang sesuai dengan kebutuhan, sebaiknya kita melakukan hal-hal sebagai berikut :

  • Fokus pada kebutuhan dan sesuaikan dengan budget

  • Diskusikan dengan pasangan atau keluarga sebelum memutuskan memilih penyedia jasa dan jenis produk asuransi

  • Mempelajari polis asuransi, nama, tanggal lahir dan alamat yang tercantum pada polis dan tidak ragu bertanya kepada petugas asuransi

  • Konsisten membayar premi asuransi

Dengan berinvestasi untuk pendidikan anak-anak, akan ada sejumlah uang lebih yang harus kita keluarkan selama masa polis. Tapi itulah tantangan baru sebagai orang tua. Mempersiapkan masa depan anak-anak dengan sebaik-baiknya. Mungkin dulu saya pernah terkendala dalam urusan biaya pendidikan, maka hal itu jangan sampai terjadi lagi kepada anak saya. Ya, gini-gini saya kan penjahit yang kekinian. Penjahit juga bisa loh, punya asuransi 😉

Saatnya kita mulai proteksi diri dengan asuransi jiwa sekaligus berinvestasi untuk pendidikan anak. Dan #SMiLeinAja kepada berbagai tantangan baru yang hadir dalam hidup kita. And let’s #SMiLeWithMe

Note : semua foto dalam postingan ini adalah foto koleksi pribadi.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

6 Replies to “Ketika Profesi Kita Dipandang Sebelah Mata, #SMiLeinAja”

  1. saya juga tidak memperdulikan orang mau bilang apa, toh yang menjalani kita jugakan
    kalau kita suka juga enjoy dengan pekerjaan yang kita pilih selama itu halah dan tidak ada yang dirugikan kenapa nggk
    kerja itu butuh kenyamanan bukan ikut-ikutan trend, aku rasa sih begitu
    penghasilan berapapun selama kita mampu bersyukur tentu tak ada masalah
    apalagi kalau bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain dan bisa sedikit2 menyisihkan penghasilan untuk menabung hehe

  2. saya malah pingin bisa jahit mbak, adik ku nih yang ajdi penjahit, alhamdulillah orderannya malah banyak, bisa menghasilkan pakaian or sesuatu dengan tangan sendiri itu keren

Leave a Reply