Sensori Integrasi, Dasar Dari Proses Belajar

Sebelumnya saya nggak pernah menyangka bahwa saya akan berurusan dengan masalah sensori integrasi pada anak. Ya, karena Hammam kelihatan sehat-sehat saja. Masalahnya hanya ia terlambat bicara. Dan seperti lingkungan pada umumnya, anak yang belum bisa bicara di usia hampir 3 tahun akan ditanggapi dengan ‘belum, kali…’ atau ‘nanti juga bisa ngomong, dulu juga si A umur segitu baru bisa ngomong’ dan seterusnya.

Sebagai orang tua memang kita jangan pernah berhenti belajar dan mempelajari. It’s my bad, karena sensori anak luput dari perhatian saya selama ini. Jangan ditiru ya, please. Kalian adalah ibu yang keren, jangan pernah berhenti mencari tahu meskipun yang tersedia selalu tempe.

Jadi, dari sekian banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak, salah satunya adalah karena gangguan sensori integrasi. Dicurigai Hammam mengalami gangguan ini, seperti yang sudah saya ceritakan di blog post sebelumnya disini.

Apa Itu Sensori Integrasi?

Berdasarkan definisi yang saya ambil dari katalog klinik psikologi anak yang kami datangi, Sensori Integrasi adalah proses yang dilakukan oleh sistem syaraf dalam menerima seluruh informasi yang ada di sekitar kita melalui sensori (7 indera), lalu mengatur informasi tersebut agar kita dapat mengartikan informasi itu dan membentuk perilaku yang adaptif.

So, kalau selama ini kita tahu manusia memiliki panca indera (5 indera) sebetulnya masih ada dua lagi yang mungkin terlupa. Yaitu otot dan sendi, serta keseimbangan. Itulah dua indera lain yang kita miliki namun saya baru tahu kalau keduanya turut mendukung lima indera lainnya sehingga kita bisa dengan mudah beradaptasi.

Sensory Integration

Sistem Pendengaran (Auditory)

Auditory merupakan kemampuan seseorang yang berkaitan dengan organ telinga. Yakni kemampuan mendengar, memproses informasi yang didengar sampai dengan merespon informasi tersebut.

Seorang anak yang mengalami gangguan auditory akan cenderung lambat dalam merespon ketika dipanggil namanya atau diajak berbicara. Nah, itu Hammam banget.

Sistem Pengelihatan (Visual)

Visual adalah kemampuan seseorang yang berkaitan dengan organ mata. Kemampuan melihat, fokus terhadap objek dan memproses apa yang dilihat oleh mata.

Visual yang baik akan mengantarkan anak pada ketepatan dalam usahanya menangkap sesuatu, terutama benda yang bergerak. Jika visualnya kurang baik, jangan heran kalau ada anak yang dilempari bola, bolanya kemana, nangkepnya kemana.

Sistem Pengecapan (Gustatory)

Gustatory adalah indera pengecapan yang berada pada bagian atas lidah dan rongga-rongga mulut manusia.

Saat menjalani assessment sampai dengan terapi sensori, saya belum sempat dijelaskan bagian ini. Tapi mungkin ya, sistem pengecapan yang kurang baik itulah sumber masalah kenapa Hammam pilih-pilih makanan.

Baca juga : MPASI Tepat Untuk Nutrisi Terbaik

Sistem Penciuman (Olfactory)

Sistem olfactory adalah kemampuan untuk membaui aroma dari sesuatu. Penciuman dengan pengecapan menjadi berkaitan erat karena letaknya yang berdekatan.

Ini mirip-mirip dengan pengecapan. Kalau nyium sesuatu yang nggak biasa, Hammam akan segera menghindarinya. Oh, anakku.. kenapa sih kamu begitu? :'(

Sistem Perabaan (Tactile)

Tactile adalah kemampuan sensori dasar yang berkaitan dengan kulit atau perabaan. Dimana kulit sebagai bagian tubuh yang banyak berhubungan dengan lingkungan, sehingga  berkaitan dengan kesadaran diri, kemampuan sosialisasi dan komunikasi.

Perkembangan tactile yang tidak optimal menjadikan Hammam sulit sekali diajak menyentuh sesuatu yang lembek dan halus. Pakai selimut bulu-bulu saja dia ngamuk looh. Coba bayangkan!

Sistem Otot dan Sendi (Proprioceptive)

Proprioceptive berkaitan dengan rasa sendi, kontrol gerak, perilaku anak, kemampuan untuk duduk tenang dan konsentrasi. Juga berhubungan dengan perencanaan gerak dan kesadaran anak terhadap lingkungannya.

Jika tidak berkembang secara optimal maka sendi-sendi ini akan terus menuntut tubuh seseorang untuk terus dan terus bergerak agar sendi mendapatkan tekanan yang dirasa cukup. And that’s why sampai sekarang ia masih jalan jinjit. Hwaaaa :'(

Baca juga : Anak Berjalan Jinjit, Orang Tua Khawatir

Sistem Keseimbangan (Vestibular)

Vestibular merupakan kemampuan sensori dasar yang berkaitan dengan keseimbangan dan bergerak secara efisien. Vestibular yang baik dapat menentukan seorang anak mampu untuk bertahan dalam satu aktivitas dalam waktu yang cukup, serta berkonsentrasi dalam menyelesaikan aktivitas tersebut.

Ya udah lah ini sih bener banget si Hammam nggak sanggup bertahan lama-lama dalam satu aktivitas. Apalagi aktivitasnya macam duduk-duduk main puzzle gitu. Semenit langsung say goodbye pasti.

Well, kayaknya berat amat ya masalah yang ditanggung sama Hammam? Jadi makin sedih nggak sih waktu terapisnya memberitahu apa-apa saja yang menjadi problemnya. Dan ini harus segera dibereskan.

Masalah sensori integrasi jika tidak ditangani dengan baik, bisa-bisa berdampak jangka panjang loh. Karena sensori integrasi adalah dasar dari proses belajar. Jika diibaratkan piramida, maka letak sensori ada di paling bawah, sebagai pondasi. Jika sensori sistemnya sudah baik, maka akan lebih mudah mengarahkan anak pada sensory motor development yang posisinya tepat berada di atas sensori sistem.

Contoh-contoh dampak yang bisa terjadi, pernah saya tuliskan di website emak2blogger, disini.

Sekarang, bagaimana si sensori sistem ini akhirnya menghambat Hammam dalam proses belajar bicara?

Jadi begini, dengan segala problem yang dialaminya, Hammam menjadi amat nggak fokus. Paling nggak bisa untuk duduk diam dan maunya ngacir terus. Sehingga apa yang saya dan orang-orang sampaikan padanya akan mental semua. Nggak ada yang dia amati apalagi direspon. Super cuek!

Hammam Pakai Batik

Tuh, dia mah diajak kondangan aja lari-lari loh. Rasanya kondangan nggak pernah tenang, haha.

Kata psikolog, bisa jadi Hammam sebetulnya mendengarkan dan menyerap semua kata-kata yang pernah ia tahu. Dan itu akan dikeluarkan suatu saat nanti, ketika dirinya siap. Dalam arti, ketika ia sudah lebih adaptif dan lebih fokus. Semoga ya… Udah pengin banget ini ngobrol berduaan.

Baca juga : Liburan Di Rumah

Ketika diminta menirukan saya bicara, Hammam nggak pernah mengikuti. Saya ingat hanya beberapa kali, waktu itu saya bilang ‘patah’ dan ‘baby’. Dan itu sunggu-sungguh ia tirukan secara benar. Selebihnya, au ah gelap.

Nah, makanya Hammam disarankan untuk menjalani terapi sensori integrasi setiap seminggu dua kali. Setelah tiga bulan akan dilakukan evaluasi. Cerita bagaimana proses assessment dan terapi, akan saya buat dalam blog post berbeda ya.

Mohon sabar menunggu 🙂 Jangan lupa, amati dan stimulasi sensori sistem pada anak ya…

Cheers.

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *