Ketika “Beli Lauk” Menjadi Pilihan Seorang Ibu Yang “Sibuk”

Dulu sebelum memutuskan untuk menikah, saya sempat berpikir apakah saya ini bisa berubah dari seorang anak menjadi seorang isteri? Karena saya nggak bisa masak, masuk dapur aja jarang. Disuruh nyuci piring aja benar-benar cuma piringnya yang saya cuci. LOL. Lalu saya berpikir “Ah, pasti kan ada waktu untuk belajar masak.” Jadi ceritanya saya mantap untuk maju ke jenjang pernikahan tanpa keahlian memasak. Dan suatu ketika calon papa mertua bertanya “Kamu bisa masak?” Jeng jeeeeng.

masak-sendiri
Photo : pexels.com

Ini bapaknya calon suami saya loh yang nanya, mungkin karena calon mama mertua adalah wanita yang jago masak banget jadi pihak keluarga ingin memastikan bahwa anak laki-lakinya kelak akan makan yang seenak di rumah. Mereka hampir nggak pernah beli lauk di luar. Duh, kalau nunggu saya bisa masak dulu terus nikahnya kapan? Wheheheheee.

Lalu setelah menikah kami tinggal di rumah Ibu saya. Kondisinya waktu itu saya dan suami sama-sama bekerja, pergi dan pulang bersama bagai tak terpisahkan. Jadi untuk urusan makan biasanya Ibu saya yang masak untuk kami. Masakan Ibu adalah menu sederhana yang proses masaknya nggak butuh waktu lama. Macam sayur bening ditambah tempe, tahu, ayam atau ikan goreng. Olahan bersantan jarang ada di rumah kami. Karena Ibu saya juga saat itu masih giat bekerja mengurus konveksinya.

Sesekali saya bantu Ibu di dapur, terutama ketika hari libur. Kadang saya juga mencoba resep-resep masakan yang sekiranya suami suka, seperti masakan mama mertua yang bersantan atau pedas. Tapi karena kebanyakan belajar masaknya dari Ibu—bukan dari buku resep jadinya yang saya bisa adalah memasak makanan seperti yang Ibu buat. Lagian simple, masaknya sebentar dan rasanya juga not bad—kata saya. Hahaha.

Waktu berlalu, saya resign, punya anak, dan you know the rest. Namanya punya anak kecil apalagi yang tipenya kayak ninja itu mau masak nasi di rice cooker aja mesti negosiasi dulu. Sungguh terlalu!

Baca juga : Drama Menyapih

Nah kali ini tim Siti Nurbaya dalam Collaborative Blogging sedang mengangkat tema “Beli Jadi Atau Masak Sendiri?” yang ditulis oleh emak pencinta kuliner fiksi sekaligus tukang masak dan (katanya) tukang makan, Dyah Prameswarie. Triggernya bisa baca disini.

Akhirnya Saya Pilih Beli Lauk

Bisa-bisa aja sih dipaksain masak dengan anak ikut ke dapur. Nggak apa-apa lah kalau dia cuma mukul-mukul panci bekas dengan sumpit. “Mami senang kok dengarnya, Hammam. Merduuuu sekali.”

Atau kalau dia pura-pura cuci piring padahal mah main air terus dituang-tuang airnya ke lantai sampai ngabisin beberapa lap buat ngeringin lantai. Mau ngebersihin pakai vacuum cleaner eh gantian si kecil pindah kegiatan dari cuci piring ke alat penyedot air dan debu itu.

Nggak apa-apa juga kalau dia mainin pintu gudang di dekat dapur, buka-tutup-buka-tutup, yang katanya mau tangkap tikus tapi takut (ih gimana sih, Ham?).

Yang jadi masalah adalah setelah bosan dengan semua itu dia akan mendekati kompor yang menyala dengan panci berisi sayur mendidih atau penggorengan dengan minyak panasnya and so on. Nggak sampai situ aja, kadang dia merengek minta di gendong. Atau minta mandi, minta es krim, minta ambilin bola yang nyangkut di genting dan minta hal-hal ajaib lainnya. Tuing!

Maka dari itu, jika tidak memungkinkan saya nggak akan masuk dapur untuk masak meskipun udah belanja di tukang sayur. Dan saya mendingan beli lauk di warteg atau rumah makan terdekat.

Kompromi Dengan Suami

Sebenarnya ini menjadi dilema sih, antara nggak mau repot masak tapi juga merasa bersalah sama suami karena saya udah jarang banget masak untuk doi. Tapi mau bagaimana lagi?

Saya tuh nggak bisa bangun sebelum subuh demi “memasak sebelum anak bangun dari tidurnya”. Lha bagimana bisa, kita aja baru tidur antara jam 1-2an karena Hammam susah banget disuruh tidurnya. Dan lagi mau belanja sayuran di mana jam segitu? Bisa aja sih belinya dari kemarin terus masukin kulkas dulu. Tapi kalau saya kesiangan gimana? Ujung-ujungnya malah nggak dimasak dan jadinya mubazir. Kan sayanggg…. *ini pintar banget yah mencari alasannya*

Dan sampai sekarang saya belum pernah tanya ke suami apakah dia oke aja kalau kita keseringan beli lauk? Saya takut mendapatkan jawaban yang mengharuskan saya untuk kerepotan masak tiap hari. Tapi so far suami nggak komentar yang gimana-gimana kalau kita beli lauk. Malah kadang dia pergi sendiri ke warteg.

Tak Pandai Membuat Rendang

Suami saya adalah orang Sumatra yang makanan sehari-harinya kebanyakan bersantan dan pedas. Mama mertua jago banget bikin rendang, rasanya beneran enaaak banget. Malahan lebih enak daripada rendang di RM padang manapun. Dagingnya tuh yang bisa empuk banget, terus bumbunya sampai kering gitu.

Pernah ada tetangganya yang mau pergi ke Swiss untuk dinas kerja dan minta dibuatkan rendang dengan alasan rendang itu awet berhari-hari kalau dipanasin. Gile nggak tuh, rendangnya mama mertua udah sampe ke Eropa. Go international!

Saya pernah coba masak rendang juga dong. Tapi nggak sempurna kayak buatannya mama mertua. Dari raut wajah suami ketika makan kelihatan banget sih dia mau bilang kalau rasanya beda jauh. Dia memang nggak membandingkan masakan saya dengan mamanya. Tapi dengan komentarnya bahwa rendang buatan saya kurang ini itu ya cukuplah untuk bikin saya minder hahahahaha.

Bukannya saya nggak mau berjuang untuk belajar lebih ekstra. Baca lagi aja poin yang pertama di atas, alasannya ada disitu. LOL.

Kesibukan Lainnya

Ketika ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan dan cukup menyita waktu, saya memilih untuk nggak masak di hari itu. Pekerjaan apaan? Situ kan cuma ibu rumah tangga! Eh, masih ada loh pertanyaan begini hahahaha. Jawabannya ya pekerjaan apa aja, namanya juga orang hidup banyak lah yang dikerjain.

Maklum lah dikit-dikit saya juga suka terima pesanan apaan aja. Sprei, bedcover, bantal, tas, kaos. Nah, jadi promosi kan tuh.

active mommy 1024x1024 - Ketika "Beli Lauk" Menjadi Pilihan Seorang Ibu Yang "Sibuk"

Dan sepertinya warung atau rumah makan memang menjadi solusi tepat. Lagipula sejak Hammam memasuki usia 3 tahun ini makannya udah nggak peaky lagi. Dia ikut makan apapun yang saya makan, selama rasanya nggak terlalu pedas.

Baca juga : MPASI Tepat Untuk Nutrisi Terbaik

Butuh Strategi

Kalau ibu-ibu yang berada di kubu masak-sendiri menyiasati menu sehari-hari dengan membuat rencana per minggu—misalnya, kubu beli-jadi juga harus punya strategi. Biar bagaimanapun kita tidak boleh merasa bosan dengan apa yang kita makan.

Strategi saya adalah berlangganan di beberapa rumah makan, yaitu warung tegal atau warteg, rumah makan betawi dan rumah makan padang. Ketiganya memiliki cita rasa yang berbeda, semuanya enak dan kami sekeluarga belum pernah sakit perut apalagi keracunan dengan apa yang mereka jual. So, kesimpulannya aman untuk dimakan.

Porsinya juga pas untuk makan berempat (termasuk ibu saya), jadi kalau beli tuh bisa empat jenis lauk pauk yang kalau ditotal harganya sekitar Rp. 20.000 – Rp. 25.000. Nah kalau di RM padang agak mahalan lagi, sekali beli bisa habis sekitar Rp. 50.000, makanya jarang-jarang beli lauk di RM padang demi menyelamatkan keuangan keluarga. Tssaaah.

Sedia Telur Sebelum Lapar

Tapi kadang-kadang suka malas keluar sih misalnya hari itu lagi hujan atau justru lagi panas terang benderang. Makanya di kulkas selalu tersedia telur ayam dan semua orang di rumah suka dengan telur. Horeee… Soalnya telur itu praktis, cuma di rebus aja udah enak, sebentar pula ngerebusnya. Diceplok juga nikmat, apalagi didadar.

beli lauk
Maafkan fotonya yaaa…

Kangen Masak

Dengan berada dalam kubu beli-jadi, bukan berarti saya anti masak di rumah dan terus-terusan beli lauk. Saya senang kok kalau bisa masak untuk keluarga. Cuma ya sekarang timingnya belum tepat aja kali. Siapa tahu kalau Hammam sudah sekolah nanti atau setidaknya udah lebih ‘anteng’ saya bisa lebih sering masak, fokus di dapur. Lagian saya juga kangen masak. Kangen sama suasana dapur yang saya berantakin nggak karuan lalu capek sendiri ngeberesinnya.

Yang terutama sih, saya kangen untuk bilang gini ke suami “Pih, kalau enak tolong bilang enak. Kalau nggak enak, tolong bilang enak.” seperti yang dulu saya ucapkan setiap kali masakan saya sudah matang.

So, mau masak sendiri atau beli jadi sama saja. Yang penting seisi rumah nggak ada yang kelaparan.

Cheers.

collaborative-blogging
This is my new gank 😉

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

14 Replies to “Ketika “Beli Lauk” Menjadi Pilihan Seorang Ibu Yang “Sibuk””

  1. Oh iyaaa aku ngerti, Hammam tidur nya larut sangat yaa maak.. moga nanti udah nggak gitu lagi ya. Kerjaan mah nggak ada abisnya ya 😍 udah menghargai aja pilihan masing2. Yg penting nggak kelaparan dan pak suami nggak protes 😀

  2. Ibuku dulu juga sibuk dan tipikal yang beli lauk jadi aja kok padahal bisa masak, bahkan masih suka beli lauk sampai sekarang. Sampai-sampai dulu kalau aku pulang ke rumah pas libur kuliah berasa sama aja sama di kost, kalau mau makan ndadak beli dulu. Sampai akhirnya keahlian ibuk memasak perlahan hilang. Tapi sekarang sih karena udah nggak sesibuk dulu, sedikit-sedikit masak lagi buat bapak. Tapi kalau lagi capek atau malas masak ya beli aja yang praktis. Nah ini justru beda sama aku. Karena dari kecil udah makan masakan luar, sekarang pas udah rumah tangga pengennya selalu masak sendiri malahan.

Leave a Reply