Menyapih – Jangan Ada Drama Antara Ibu dan Anak

Sebagai orang tua muda, khususnya para ibu, ada saja hal baru yang dialami. Mulai dari perubahan bentuk tubuh ketika hamil dan sering tak kembali juga setelah melahirkan ke bentuknya semula. Lalu si bayi lahir, perubahan jam tidur dan jam kerja, ini ina inu. Kemudian si bayi berusia enam bulan, yang artinya sang ibu harus memberikan MPASI. Cari-cari resep yang bikin anaknya jadi doyan makan dan sebagainya. Semuanya dilalui dengan perasaan yang yaaa lelah-lelah dikit tapi sangat happy.

Dan akhirnya si anak memasuki usia dua tahun. Saat dimana ia harus disapih, tidak lagi menyusu pada ibunya. Dan inilah episode baru lagi. Saya ingin berbagi, terutama untuk para ibu yang sedang mengalami masa galau perencanaan maupun proses menyapih. Silahkan disimak ya..

Putera saya, Hammam, sebenarnya saat itu belum genap dua tahun. Masih kurang sebulan. Tapi sejak usianya 22 bulan saya sudah mulai mengurangi frekuensi ia menyusu. Dengan harapan ketika usianya tepat dua tahun ia sudah mandiri, dan proses selama dua bulan tersebut saya rasa cukup untuk membuatnya terbiasa. Dan sayapun sering mengatakan padanya bahwa sebentar lagi Hammam sudah tidak akan menyusu pada mami. Sepertinya dia mengerti, karena setiap kali saya bilang itu dia selalu langsung balik badan membelakangi saya. Mungkin merenung, yah? Atau mencerna kalimat ibunya.

Saya tidak pakai metode menakut-nakuti dengan misalnya memberikan rasa yang tidak enak pada puting susu, atau mengoleskan warna merah seperti darah. Mengapa? Karena saya tak ingin dia menjadi seperti saya, yang masih ingat peristiwa itu sampai dewasa. Ya, saya memang dulu disapih dengan cara itu dan entah mengapa saya mengingatnya padahal waktu itu saya juga baru berumur dua tahun. Mungkin gara-gara itu juga akhirnya saya menjadi penakut. Mungkin loh ya…

Hammam memang belum lancar bicara. Tapi dia sudah bisa bilang kalau mau mimik asi. Dia akan bilang nene atau nena. Saya sangat menyukai kata-kata itu. Lucu jika ia yang mengucapkan. Dan pose Hammam ketika mimik itu selalu lucu-lucu. Bisa sambil tengkurap di atas badan saya, atau sambil nungging. Kadang sambil jogged. Sungguh. Ketika itu saya berpikir ‘Mami akan sangat kangen dengan aktifitas ini… dengan gaya Hammam yang begini…’ Dan waktu pun terus berjalan… Hingga saatnya tiba.

22 bulan 3 minggu, saat frekuensi mimiknya sudah sangat berkurang, Hammam sangat rewel dan tidak mau bobo siang. Akhirnya dia mintalah itu nene. Dan itulah kali terakhir saya memberikannya. Sore hari saya dan papinya membawa dia ke Nyai tukang urut. Untuk pijat rutin dan sekalian minta didoakan karena Hammam mau disapih. Ternyata hari itu katanya tidak perlu diurut. Hanya dikasih air doa, disembur-sembur dikit yang bikin dia ketawa kegirangan. Katanya, setelah ini Hammam sudah tidak perlu dikasih nenen lagi. Sapih dimulai.

Aduh, rasanya kok saya gelisah ya mendengar kalimat itu… tapi si Nyai bilang, saya harus ikhlas… duh, semoga semua berjalan lancar ya…

Malamnya ketika mau tidur Hammam minum susu di botol. Dia tidak minta nene, tapi langsung bobo. Dan tak terbangun sampai pagi. Alhamulillah, malam pertama berjalan lancar. Pagi harinya juga dia ceria seperti biasa. Wah manjur juga nih semburan si Nyai. Dan ketika akan tidur siang, saya memberikannya susu. Tapi, pada bagian ini tidak seperti dugaan. Hammam minta nene. Apaaa…? Kok dia masih ingat sih..? Kirain udah lupa.

Tentu saya tidak memberikannya walau ia menangis histeris. Aduh, paniknya… bagaimana bisa saya berpikir kalau dia sudah lupa dengan kebiasaannya selama hampir dua tahun, hanya dalam dua hari saja. Ya nggak lah ya… mungkin tadi malam ia hanya kelelahan makanya cepat pulas.

Seseorang pernah berkata pada saya, ‘kalau nyapih anak jangan lihat ke matanya, terlalu menyakitkan’. Saya selalu berusaha mengindari kontak mata dengan Hammam. Tapi kali itu tidak bisa. Tanpa sengaja saya melihat kedua bola matanya. Ya Tuhan, sungguh menyakitkan memang. Semua kemarahan sepertinya ada di sana. Dan siang itu, di dalam kamar yang redup dan sepi, akhirnya kami menangis berdua. Bedanya Hammam menangis menjerit penuh kekecewaan sedangkan saya menangis dalam diam, meratapi mengapa saya harus menyapihnya secepat ini….?

Hari kedua masih sama. Hanya saja saya sudah tak se-emosional kemarin dan bisa mengatasi keadaan. Saya katakan padanya “Mami bukannya nggak sayang Hammam lagi. Kita cuma ganti kebiasaan. Yang biasanya Hammam nene, sekarang nyusu di botol. Karena Hammam sudah besar dan makin pintar.” Setiap kali drama ini berlangsung, selalu berakhir dengan Hammam ketiduran di pojokan kasur. Hati ini rasanya basah… dan hari-hari berikutnya ia masih suka minta nene tetapi kalau tidak dikasih sudah tidak pakai ngambek lagi.

Yang paling penting saya lakukan selama proses ini adalah memberikan perhatian yang ekstra kepadanya dan ekstra sabar.

Menyapih anak itu memang penuh drama. Tapi bisa dilewati. Karena tidak mungkin ia terus menyusu pada ibunya. Dengan disapih harapannya anak akan bisa mandiri. Berikut adalah tips menyapih agar semua berjalan lancar.

  • Tidak mendadak

Kita saja yang orang dewasa tidak akan siap pada perubahan yang terlalu mendadak. Komunikasikanlah dengan anak sejak jauh hari. Walau kelihatannya anak-anak tidak mengerti, tapi sebenarnya mereka ngerti loooh.

  • Dukungan semua pihak

Mintalah dukungan pada suami, orangtua dan saudara. Hingga ketika masa sapih berlangsung tidak ada yang berkata menyakiti hatinya, seperti “Ihh kasihan udah gak dikasih nenen sama mami…” percayalah ini akan membuat anak sangat sedih meski maksudnya hanya bercanda.

  • Beri perhatian khusus

Jika menyapih sudah dimulai, berikanlah perhatian yang lebih kepada anak. Jangan sampai ia merasa “Sudahpun aku tak boleh lagi nenen, mami tetap cuekin aku.” ini berlaku untuk ibu dan ayah ya… intinya anak sedang uring-uringan, kasih lah ia waktu yang lebih banyak untuk bermain bersama kita. Gadget, simpan dulu.

Menyapih - Jangan Ada Drama antara Ibu dan Anak

  • Makanan favorit

Berikan ia makanan favoritnya. Kalau sukanya es krim atau coklat, boleh dikasih asalkan selesai itu mau gosok gigi. Hindari ia ngambek berkepanjangan. Besoknya coba kasih pengertian lagi bahwa tidak baik terlalu sering makan coklat dan es krim.

  • Nonton TV/DVD

Mungkin kita sudah memberlakukan jam nonton tv. Tapi untuk kali ini biarlah ia nonton dvd untuk menghibur dirinya yang sedang sedih.

Baca :  5 Coolest Pixar Movie’s Credit Title

  • Main di luar

Ajaklah anak bermain diluar, bertemu dengan teman-teman sebayanya. Ini bisa membuatnya sedikit demi sedikit melupakan kebiasaan nenennya. Atau pergilah bertiga, jalan-jalan, nonton atau makan di luar. Dijamin anak bakal senang, bahagia, dan lelah. Sampai rumah tinggal tidur deh.

  • Aktifitas lain

Kenalkan ia pada aktifitas lain selain nonton tv. Misalnya membaca buku, berenang, main sepeda dan lain-lain.

  • Ikhlas

Dalam menyapih dibutuhkan keikhlasan dari keduabelah pihak. Sebagai ibu kita harus yakin bahwa menyapih adalah proses yang baik untuk si kecil. Makanya perlu dilakukan dengan hati yang teguh dan ikhlas. Sedangkan si anak perlu diberi pengertian bahwa menyapih dilakukan demi kebaikan dirinya.

Demikian beberapa hal yang saya praktikkan selama menyapih Hammam. Semoga bermanfaat dan jika ada yang mau menambahkan, silahkan . Oh ya, pada masa sapih saya hanya mengalami bengkak payudara selama tiga hari saja. Tidak dikompres, tidak diapa-apakan tahu-tahu hilang sendiri bengkaknya. Mungkin karena asi saya juga sudah sedikit seret. Kalau ibu-ibu lain katanya sih harus dikompres dengan air hangat atau dingin untuk mengurangi bengkak.

Note : pada episode membawanya ke Nyai urut ini boleh dilakukan boleh tidak ya… tergantung kepercayaan hihihi. Kalau saya niatnya agar Hammam segera lupa sama nene, tapi tak 100% berhasil.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

4 Replies to “Menyapih – Jangan Ada Drama Antara Ibu dan Anak”

  1. aku masih tahap pengurangan frekuensi. Emang deh ya nangisnya itu sampai kejer, teriak-teriak, air mata berderai. Mana aku lagi sendirian, ayahnya lagi dinas. Heuheu…

  2. Huwahhh.. drama anak nangis pas disapih itu yaaa bikin hati mencelos banget. Di satu sisi harus kuat, di sisi lain harus tega. Proses nyapih ini memang gak selalu mulus yaa tapi begitu berhasil jadi lega banget..

Leave a Reply