menulis review

Menuangkan ‘Rasa’ ke dalam Tulisan Reportase, Review atau Sponsor Post

Seperti sebuah dongeng jelang tidur yang sangat dipercaya dan selalu diingat oleh anak-anak hingga berbulan-bulan kemudian, seperti itulah saya ingin tulisan saya diingat oleh pembaca. Makanya setiap menulis saya selalu sungguh-sungguh (anak baik-baik mode on).

Tapi kenapa dalam menulis review atau sponsored post kok suka hambar-hambar gimana gitu, ya? Seperti makanan kurang bumbu yang boro-boro mau ditelan, ngunyahnya aja malas pisan. Padahal saya sudah nurut sama aturan-aturan dalam menulis. Semua teori menulis yang pernah saya pelajari seolah bubar jalan, hanya karena tulisan saya kurang ‘rasa’.

So far menulis ‘sesuai pesanan’ suka beda rasanya dengan menulis organik. Pada tulisan organik kayaknya saya lebih bebas ber-haha-hihi, kayak orang lagi ngobrol sama teman aja. Sedangkan tulisan sponsor saya lebih jaga image, ibaratnya saya lagi ngomong di depan bos. Harus sopan, kalem, jaga attitude lah intinya biar dibilang karyawan teladan dan gajian tiap bulan lancar jaya.

Mungkin selama ini saya tidak menaruh rasa pada tulisan saya, sehingga terkesan kaku dan monoton. Bagi blogger tulisan yang membosankan itu adalah ancaman. Semakin orang bosan, semakin cepat mereka pergi dan berpindah ke lain hati. Ujung-ujungnya bounce rate tinggi, popularitas blog pun jadi turun di mata si mbah google. Enggak peduli lah si mbah sama urusan hati blogger yang ditinggalin sama pembaca. Nasib… nasib.

Ini kalau belajarnya berhenti sampai di sini pasti blognya sudah malas diurus deh. Eh, alhamdulillah ada penulis novel yang baik banget mau ngajarin blogger supaya tulisannya bisa punya makna lebih dalam. Workshop bertema “Menulis dengan Cinta” ini dibawakan oleh Dini Fitria, penulis novel Trilogi Cinta.

Dini Fitria

Dini Fitria dalam workshop “Menulis dengan Cinta”

Kamis, 15 Februari 2018 di JSC Hive Kuningan, berkumpul 30 blogger dari berbagai latar belakang. “Blogger kece semua ini sih. Tuh, yang udah kece-kece aja masih semangat belajar, gengs.” kata saya dalam hati. Meskipun hari itu Jakarta diguyur hujan dan suasana dingin banget tapi enggak ada satupun blogger yang tekadnya mengkerut. Karena pengin blognya jadi lebih keren dari biasa.

Workshop yang diselenggarakan oleh ISB (Indonesian Social Blogpreneur) ini mengangkat topik feature stories. What is that, gengs?

Baca juga : Ngantor di EV Hive Coworking Space

Mengenal Feature Stories

Feature stories adalah gaya menulis berita yang lebih dekat dengan keseharian pembaca. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan karakteristik penulis. Tidak terikat dengan pakem 5W+1H, namun cukup dikembangkan dengan Why, What and How.

Feature Stories diperlukan oleh blogger karena kebanyakan menggunakan konsep story telling. Penulisan dengan gaya seperti ini cocok diaplikasikan untuk menulis tentang travelling, struggling, love, sadness, happiness, inspiring dan lain-lain. Bahkan tema tulisan yang berkaitan dengan accident saja bisa loh dijadikan feature story. Dengan memanfaatkan hal-hal yang lebih mendekati human interest dan menyampaikan suatu kejadian musibah yang lebih menyentuh hati banyak orang.

Nah, kayaknya ketemu deh di mana permasalahan saya selama ini. Tulisan yang menyentuh hati itu penting banget. Tak hanya kisah-kisah sedih, tulisan berupa review atau sponsor post dan reportase juga bisa dibuat menyentuh hati. Hingga pembaca terbawa oleh tulisan kita, merasa yakin dengan apa yang kita tulis. Pada akhirnya mereka mau mencoba produk yang kita tulis.

Teman blogger pernah berbagi kisah, tulisannya tentang review suatu produk mendapat respon yang beragam dari pembaca. Ada yang tanya belinya di mana, apa ada varian lain dari produk tersebut, dan sebagainya. Menurut saya kalau orang sudah tanya yang macam-macam begini artinya ia berhasil menyentuh hati pembaca. Then I looked into mine, saya belum sampai sana 🙁

How to Create Feature?

Pertama, story telling. Rangkul pembaca dengan apa yang kita tulis. Berikan ruang agar orang memahami tulisan tersebut. Dengan arah yang jelas dan mengesankan. Jadikan diri kita sebagai objek, apakah kita sendiri akan tertarik dengan tulisan tersebut? Menulis review intinya bukanlah untuk mengesankan brand. Brand mah sudah tahu kalau produknya bagus. Tapi lebih kepada bagaimana kita menyampaikan kualitas brand tersebut kepada orang lain dengan cara yang natural, enggak dibuat-buat apalagi dilebih-lebihkan.

Kedua, goals jelas. Sebelum mengulas suatu produk pastikan kita mengetahui goals dari tulisan. Ingin pembaca mengerti akan suatu produk, tahu fungsi dan manfaatnya. Ajak pembaca untuk berpikir “Wah boleh juga, nih.” Padahal awalnya ya mereka enggak butuh-butuh amat sama produk itu. Tapi gara-gara kita menulis review yang ‘ngena’ di hati akhirnya mereka jadi pengin coba. Nah, ketika pembaca sudah terpengaruh itu artinya bonus buat kita.

Ketiga, relevan dengan keseharian masyarakat. Hubungkan deskripsi dan manfaat suatu produk dengan suatu kejadian yang sedang happening. Misalnya review multivitamin, sangat erat kaitannya dengan cuaca yang sedang tak menentu, kebiasaan orang bekerja lembur dan begadang, juga human interest terhadap gaya hidup sehat.

Baca juga : Sering Bekerja Larut Malam, Jangan Lupa Konsumsi Multivitamin

Keempat, membuat pembaca penasaran. Kuncinya ada pada kalimat dan paragraf pertama sebuah tulisan. Jadi di awal kita sebaiknya jangan bertele-tele cerita ngalor-ngidul lalu baru menyinggung si bintang utama di paragraf ke-empat, misalnya. Dini Fitria memberi contoh kalimat pembuka, “Ternyata kenyamanan hidup bisa berasal dari sebotol obat batuk.” Lha, kok bisa? Apa hubungannya hidup yang nyaman dengan obat batuk? Kira-kira itu dulu yang akan terlintas di pikiran pembaca. Dengan rasa penasaran ini membuat orang akan membaca terus sampai mereka tahu  apa yang sebenarnya kita maksud.

Kelima, menulislah dengan penuh penghayatan. Enggak usah heran kalau tulisan serasa enggak ada nyawanya kalau saat menulis review kita enggak ada penghayatan sama sekali. Coba deh ikut merasakan manfaat dari suatu produk dan bagikan value tersebut ke dalam review yang kita buat. Makanya kan kita selalu dianjurkan untuk mencoba terlebih dahulu suatu produk, untuk tahu kelebihan dan kekurangannya. Sehingga pada saat disampaikan kepada pembaca cerita yang dibuat akan mengalir apa adanya. Apalagi kalau kita menyukai produk tersebut pasti tulisannya akan dari hati banget.

Teknik Menulis Feature

menulis review

Setiap penulis memiliki ciri khas masing-masing. Sudut pandang yang diambil oleh penulis yang satu bisa berbeda dengan penulis lainnya. Kemampuan untuk menentukan point of view harus terus diasah agar tulisan kita menjadi selalu berbeda dengan tulisan orang lain karena pengambilan sudut pandang yang unik. Selain itu jam terbang seseorang dalam menulis juga pada akhirnya akan memiliki value tersendiri.

Tulisan sebaiknya menggunakan bahasa yang rapi dan terjaga. Selalu banyak membaca untuk memperkaya perbendaharaan kata dan melatih kepekaan terhadap sudut pandang suatu masalah. Jangan sampai review produk A kalimatnya sama dengan produk B meskipun kedua produk tersebut memiliki kemiripan. Atau reportase event C menggunakan sudut pandang yang sama dengan event D.

Selipkan juga diksi dan edukasi. Diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras agar ketika digunakan bisa menangkap efek tertentu. Misalnya ketertarikan pembaca terhadap tulisan kita. Kemudian edukasi juga perlu. Kalau kita mengetahui manfaat dari sesuatu, kenapa enggak dibagi-bagi, kan? Edukasi ini kalau penyampaiannya tepat bisa membuat pembaca jadi ingin memberi edukasi juga ke orang lain, loh.

Melibatkan hati dan jiwa akan berdampak pada sebuah tulisan. Jadi kalau dari suatu produk yang harus di-review kita sudah dapat breifing atau press release jangan plek di-copy and paste mentah-mentah ya, gengs. Harus ada unsur pengalaman pribadi di dalamnya. Kalau diundang pada sebuah event, coba dekati narasumber untuk menambah pengetahuan yang bisa jadi bahan tulisan.

Baca juga : What’s Your Blogging Goal?

Menuangkan Rasa ke dalam Tulisan

Bagaimana sih caranya menuliskan rasa? Jadikan menulis sebuah kegiatan yang menyenangkan. Mencoba untuk terbuka pada setiap tulisan, bahwa menulis bukanlah untuk diri kita sendiri melainkan untuk orang lain. Memang tidak selamanya kita menyukai produk yang kita review atau event yang kita hadiri. Tetapi menjadi tidak egois adalah pilihan yang bijak, bahwa segala sesuatu pasti ada sisi positifnya. Kita bisa fokus pada sisi tersebut.

Sebelum membagikan tulisan sebaiknya terlebih dahulu kita rasakan sendiri apa yang sudah kita tulis. Apakah sebagai objek kita sudah senang membaca tulisan tersebut? Atau malah eneg sendiri? Pikirkan betapa tulisan kita akan memberikan dampak positif bagi orang lain.

Dengan menyertakan hati dan jiwa, juga yakin bahwa tulisan akan bermafaat bagi orang lain, maka pembaca lah yang akhirnya menemukan rasa dalam apa yang kita tulis.

Kesimpulan

Menulis review, sponsor post atau reportase itu harus dengan perasaan yang jujur. Menulis untuk menyebarkan value kepada orang lain, bukan cari muka pada klien :D. Menulis review juga enggak harus kaku. Ibaratnya kita bisa kok ngobrol-ngobrol santai sama bos. Yang penting kitanya sopan dan berperilaku baik. Begitu juga dengan menulis. Selama itu nyaman dan dapat menjadi ciri khas, why not?

***

Terima kasih Dini Fitria atas ilmunya yang sangat berharga. Terima kasih juga kepada Indonesian Social Blogpreneur dan para sponsor yang mendukung workshop ini : C2Live, Shafira, Zoya dan Zoya Cosmetics . Atas kesempatan dan produknya yang keren. Please, jangan bosan ya mengundang saya 🙂

Oh ya pada saat break makan siang kami disuguhi menu dari Kulina. Makanannya enak banget saya sampai kekenyangan hahahahaa.

Dan kemarin saya juga dapat lipstik kece banget dari Zoya Cosmetics, reviewnya on my next blog post ya.

Baca juga : Zoya Lip Paint Review

  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  

56 thoughts on “Menuangkan ‘Rasa’ ke dalam Tulisan Reportase, Review atau Sponsor Post

  1. Jun Joe Winanto says:

    Terasa beda memang ketika seseorang nulis jauh dari lubuk hati paling dalam disertai cinta. Segenap jiwa raganya tumpah ke tulisan, ujung-ujungnya terasa hidup.

  2. Melinda Niswantari says:

    Ternyata menulispun juga harus ada bumbu โ€œcintanyaโ€ya agar ada โ€œrasanyaโ€ heheheโ€ฆakupun jaga masih belajar suapaya tulisanku di ingat-ingat sama pembaca ๐Ÿ™‚ jadi tau apa itu Features Stories dan bagaimana menghasilkan tulisan yang ada โ€œruhโ€nya. Aaah Thanks yo sudah berbagi ๐Ÿ™‚

  3. Helena says:

    โ€œSo far menulis โ€˜sesuai pesananโ€™ suka beda rasanya dengan menulis organik.โ€
    Trueee! Padahal ga boleh gini juga ya. Ga usah lebay bagai kecap nomer satu. Belajar lagiiii

  4. Haya Aliya Zaki says:

    Kalau nulls sponsored post, aku selalu berusaha jujur. Kalau nulis pakai ya memang pakai, dst. Berat tanggung jawabnya di akhirat kalau tepu-tepu haha. Seandainya ada kritik, aku coba sampaikan dengan bahasa yang baik. ๐Ÿ™‚

  5. Ayu F says:

    Duh suka banget deh sama artikelnya! Sampe-sampe saya baca berulang. Menulis dengan rasa, saya merasa kehilangan ini nih, Mbak… tau banget sih alasannya, kelamaan nggak dipake soalnya. Hihihi. Terima kasih banyak sudah menulis

  6. Ika Maya Susanti says:

    Banyak dagingnya ni Mbak isi tulisannya. Saya sampai baca per paragraf dengan lambat sambil nyari contoh, kalau saya bikin tulisan kayak gini, berarti berdasarkan keterangan ini, harus saya bikin seperti apa. TFS yaโ€ฆ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *