Lakukan 5 Hal Ini Untuk Mendukung Kreativitas Anak

Buibu, saya mulai pusing ketika si Hammam suka minta nonton video via gadget. Mana dia udah bisa lagi, tap sana-sini memilih video yang disukainya. Padahal misi saya tuh (dulunya) jangan sampai anak main gadget. Saya maunya dia lebih banyak menggambar, mewarnai, main pasir, main puzzle, baca buku and so on. Serba salah ya, dia main ninja-ninjaan melulu emaknya lelah. Eh dia anteng main sama gadget, emak jadi stress.

Apalagi kalau weekend, papinya libur. Bisa berdua-duaan tuh di kamar nonton finger family. Daripada mereka berdua masing-masing ngeliatin layar, kan mendingan nyiram tanaman bersama ya…

Baca juga : Menjaga Kenyamanan Mata Keluarga dengan Lampu LED

Memang tidak ada salahnya kita memperkenalkan anak-anak pada teknologi terkini. Tapi yang namanya anak-anak pasti masih butuh menjalani kegiatan-kegiatan non digital. Karena kegiatan bermain dapat merangsang kreativitas anak. Adalah tugas kita untuk mendukung kreativitas anak agar ia menjadi seseorang yang kompeten di masa mendatang.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa prestasi akademik tidaklah menjadi satu-satunya tolak ukur kesuksesan seseorang. Sejak dahulu kreativitas seseorang selalu menjadi nilai tambah. Contohnya saja ketika melamar pekerjaan, daftar riwayat hidup yang mencantumkan pengalaman berorganisasi akan lebih dipertimbangkan.

Seseorang yang memiliki keahlian tertentu bukan hanya lebih mudah mendapatkan pekerjaan, tetapi juga berkesempatan menciptakan lapangan pekerjaan.

Itulah yang menjadi do’a saya untuk anak-anak. Pastinya do’a semua orang tua kayak begini kan ya, yang nyerempet-nyerempet kesuksesan anak lah intinya.

Sebetulnya anak yang kreatif itu seperti apa sih pembentukan karakternya? Apakah memang sudah faktor genetik atau harus diupayakan? Berdasarkan pengamatan saya di lingkungan sekitar, jika ada orang tua yang kreatif maka anaknya juga rata-rata kreatif. Awalnya saya pikir kreativitas itu pasti menurun dari orang tua ke anak. Tapi setelah baca-baca, ternyata kreativitas tidak sepenuhnya berasal dari faktor genetik.

Ngomong-ngomong soal kreativitas anak, ini berhubungan dengan tema Collaborative Blogging grup Siti Nurbaya. Jadi menurut Mak Rita Rahmawati, orang tua memiliki peranan besar dalam merangsang anak berpikir konseptual atau memacu anak berpikir kreatif, yang mana ini akan sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian anak di masa depan. Nah, ini sama kan dengan yang saya cita-citakan. Cocok pokoknya.

Anyway, tulisan Mak Rita yang berjudul Memacu Anak Berpikir Kreatif bisa dibaca disini.

collaborative-blogging

Peranan Orang Tua dalam Membangun Kreativitas Anak

Ada faktor-faktor genetik orang tua yang mempengaruhi intelegensi seorang anak. Kalau ini mungkin sudah kodratnya ya. Bisa jadi si anak memang langsung kreatif dengan sendirinya. Tapi banyak anak yang menjadi kreatif karena peranan orang tuanya yang memberi contoh.

Orang tua yang kreatif akan memberikan dampak psikologis pada anak. Bagaimana anak meniru kegiatan Bapak dan Ibunya, yang sehari-hari melakukan kegiatan kreatif. Misalnya Ibu yang pandai membuat kue, atau Bapak yang senang membuat furniture.

Anak akan terpacu untuk melakukan ‘sesuatu‘, yang pada akhirnya akan muncul rasa ingin tahu, ingin mencoba dan ingin berhasil. Maka dari itu orang tua sebaiknya mendukung minat ini.

Contohnya saya sendiri. Ibu saya seorang penjahit. Semua anak-anaknya bisa menjahit. Dulu saya nggak bisa, tapi karena setiap hari mondar-mandir di rumah melewati mesin jahit ya akhirnya jadi mau belajar juga tanpa ada paksaan dari siapa pun.

Baca juga : Ketika Profesi Kita Dipandang Sebelah Mata

Contoh lainnya keponakan saya, yang bapaknya senang membuat sesuatu. Sampai kandang ayam saja ia buat sendiri. Lalu anaknya ya jadi ngikut, nggak boleh lihat kardus kosong. Pasti langsung berubah wujud.

By the way ada sedikit cerita lucu dari rumah kardus ini. Waktu itu mendung dan anak-anak belum beresin mainannya. Lalu papahnya bilang gini “Sanu, mau hujan. Itu beresin dulu, nanti kalau kehujanan rumahnya jadi lembek.” Bhaahahahahaaa, rumah lembek.

Anak-anak senang banget loh main-mainan kayak begini. Memang kadang ibunya cerewet ya kalau rumah jadi berantakan. Sayapun sama, haha. Tapi so far nggak terlalu yang dilarang sampai gimana gitu. Intinya kita memberikan kesempatan pada anak untuk berkreasi, merealisasikan apa yang ada di pikirannya.

Berikut adalah 5 hal yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendukung kreativitas anak.

Memfasilitasi Kegiatan Anak

Kalau anak suka membaca, tentu kita dengan senang hati membelikannya buku-buku bacaan anak. Kegiatan membaca adalah kegiatan yang paling disukai oleh para ibu, karena dengan anak-anak membaca tentunya suasana rumah jadi tenang dan nggak berantakan. Hihi.

kreativitas anak

Tapi kalau anak sukanya main bola, tentu saja kita juga harus memfasilitasi hobinya ini. Ya masa anak sukanya bola tapi malah disuruh baca buku terus kan kasihan. Atau anak senang bermain lego, coba belikan mainan tersebut. Pasti anak semakin riang bermain.

Baca juga : Memfasilitasi Anak dengan Permainan Seru dan DIY

Memanfaatkan Benda di Sekitar

Tentunya di rumah banyak benda-benda tak terpakai. Sebelum dibuang, bisa dipilih terlebih dahulu benda apa yang sekiranya dapat dijadikan mainan anak. Misalnya kaleng bekas untuk drum anak, agar suaranya tidak berisik bisa dialasi balon karet bagian dasarnya. Atau merubah ember bekas menjadi pot tanaman, lalu ibu dan anak bersama-sama menanam pohon kecil. Awww, so sweet.

Memanfaatkan benda di sekitar ini juga dapat merangsang kepekaan anak terhadap apa-apa yang bisa dialihfungsikan. Siapa tahu mereka justru punya ide menarik untuk mengubah wujud sebuah benda bekas menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Melibatkan Anak

Seperti yang sudah saya sebut di atas, anak akan mencontoh kegiatan orang tuanya. Sesekali libatkan anak-anak ketika orang tua beraktivitas. Misalnya menyiram tanaman, biarkan ia yang memegang watering can dan kita yang mengarahkan kemana benda itu harus mengalirkan air.

Bisa juga minta bantuan ringan ketika bapaknya sedang membetulkan sepeda, seperti ‘tolong ambilkan kunci pas’. Selain menumbuhkan rasa senang menolong, juga memberi pengalaman kepada anak tentang nama-nama perkakas beserta fungsinya.

Memberikan Tontonan Edukatif

Jika kids zaman now sudah sulit dipisahkan dengan gadgetnya yang kadang memang membuat pusing kepala, tak ada salahnya memberikan tontonan edukatif melalui benda yang sering kali anak-anak pegang ini. Selain dari gadget bisa juga melalui siaran televisi. Nggak perlu terlalu repot pasang TV cable untuk mendapatkan tontonan yang berkualitas, karena di TVRI masih banyak loh tontonan edukatif yang sangat cocok untuk anak-anak. Mulai dari belajar menggambar sampai dengan percobaan sience.

Jangan lupa dampingi anak ketika menonton dan berikan penjelasan atas pertanyaannya. Kadang kita juga suka kewalahan sih ya sama pertanyaan anak. Kalau sudah begini, “yuk kita cari sama-sama jawabannya” adalah jawaban yang paling wajar.

Meskipun anak-anak selalu ngefans dengan orang tuanya, proses mencari jawaban bersama ini tentu akan mengajarkan padanya bahwa orang tua juga manusia biasa yang bisa saja salah. Dan bahwa belajar serta menggali ilmu itu bisa dilakukan bersama siapa saja.

Bermain Simulasi

Biasanya anak-anak paling suka nih bermain-main simulasi, dan ini memang bagus untuk meningkatkan kreativitas anak. Kalau Hammam belum kelihatan minatnya dimana, kayaknya sih di musik. Tapi kalau sehari-hari saya duduk di balik mesin jahit biasanya dia duduk di sebelah saya, macam orang main piano gitu loh duduk berdua. Haha.

hammam

Duduk disini tidak boleh tanpa pengawasan orang dewasa

Suatu hari saya memergoki dia sedang duduk sendiri di depan mesin jahit, mengambil sehelai kain dan menaruhnya di bawah sepatu mesin, seolah ingin menjahit. Lucu amat itu anak. Tapi saya masih ngeri lah takutnya dia ketusuk jarum. Maunya beliin mesin jahit mainan, tapi nyari-nyari belum ketemu yang cocok. Adanya kecil-kecil banget sih ukurannya.

Simulasi sederhana yang sedang dikagumi dan digemari Hammam adalah bermain bayangan di kamar gelap. Biasalah pakai senter gitu, terus bayangan bendanya dibikin besar-kecil dengan memajukan dan memundurkan objek. Saya buatkan wayang kertas bentuk ayam dan kupu-kupu. Mainnya sambil bacakan cerita seperti yang ada dibuku.

Atau bisa juga ajak anak jalan-jalan untuk melihat sesuatu yang bernilai seni dan sejarah, seperti ke museum. Mungkin juga ke taman bermain dimana terdapat wahana yang mengandung unsur fisika seperti kincir angin.

***

Tentu saja masih banyak lagi cara memberikan pengalaman yang seluas-luasnya kepada anak, agar ia siap menghadapi masa depan yang penuh dengan persaingan.

Buibu pasti punya deh cara lain untuk mendukung dan meningkatkan kreativitas anak. Share ya di kolom komentar.

See you soon.

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

8 thoughts on “Lakukan 5 Hal Ini Untuk Mendukung Kreativitas Anak

  1. felyina says:

    Eh iya bener banget, mam. Anak-anak memang maunya selalu terlibat ya kalo kita ngapa-ngapain. Sering karena nggak sabar, kita malah ‘mengusir’ mereka karena merasa terganggu dan memperlambat kerja kita. Padahal mereka hanya berniat membantu.

  2. ucig says:

    aku tadi udah komen nggak ke enter apa yaa >.<
    Ham pasti penasaran mau nyobain jahit disitu yaaa..
    iyah anak2 mau ikutan, mau bantuin ya mak.. ah noted selalu melibatkan mereka

    • Dzulkhulaifah says:

      Iya mak, agak repot sih melibatkan anak-anak. Tapi dampaknya bagus loh buat kedepannya. Siapa tahu keterusan, jadi anak rajin. Kan isterinya juga yang akan bahagia kelak (ya ampun kejauhan ga sih ini mikirnya haha)

  3. Intan Rastini says:

    Dulu ayah saya sering tuh buatin mainan kreativitas buat saya seperti wayang-wayangan dari karton atau dibuatin periskop,. karena ayah saya hi-tech dan jago otak-atik barang-barang elektronik jadi saya diperkenalkan dengan komputer lebih awal. Saat SD saya udah bisa ngetik cerita di komputer trus diprint juga udah bisa ngirim e-mail 🙂 lalu SMP diajarin blogging deh.
    Kayak mbak bisa jahit karena terpapar oleh Ibunya yang jago jahit ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *