images - Film Cars 3, Bukan Hanya Soal Balap

Film Cars 3, Bukan Hanya Soal Balap

I love Cars movie. Dari yang pertama sampai kedua. Ketika diumumkan bahwa Cars 3 tayang di tahun 2017 lalu, sejak awal saya sudah berniat banget untuk mengajak Hammam nonton di bioskop. Tapi ternyata enggak jadi, karena sayang sekali film yang saya tunggu-tunggu ini cuma tayang di bioskop tertentu. Dan enggak tayang di bioskop kesayangan saya, Bintaro XXI.

Berbulan kemudian, filmnya bisa ditonton streaming. Pada sebuah situs malahan bisa di-download. Ya sudah, ini sih alamat nonton tiap hari deh sampai ke bagian closing credit-nya. Yes, as usual kami menonton film animasi sampai ‘habis’. Anyway, saya pernah bikin review 5 Coolest Pixar Movie’s Credit Title. Haha.

Cars 3 adalah film lanjutan dari seri sebelumnya. Di mana Lightning McQueen masihlah sebuah mobil balap. Tapi seiring berjalan waktu, popularitasnya bergeser dan tergantikan oleh mobil balap keluaran terbaru. Lebih stylish, canggih dan yang pasti lebih cepat. Namanya Jackson Storm.

Pada suatu balapan, McQueen mengalami kecelakaan hebat hingga ia harus vakum untuk sementara waktu dan menyendiri di Radiator Springs. Atas motivasi dari Sally dan Mater sahabatnya, akhirnya McQueen bersedia kembali ke dunia balap, dengan syarat ia ingin berlatih sebagaimana rivalnya—Storm, dilatih.

Sponsornya menyanggupi itu dan McQueen berangkat untuk memulai latihannya di Rust-eze Training Center (RTC) yang tiba-tiba saja memiliki bangunan megah dan fasilitas terkini super lengkap.

McQueen dilatih oleh sebuah sport car bernama Cruz Ramirez. Usianya masih sangat muda, semangatnya menggebu-gebu melatih McQueen untuk kembali ke arena balap. Cruz Ramirez mungkin terlihat hebat saat melatih mobil-mobil balap di RTC, tapi dirinya justru belum pernah menjadi pembalap. Karena sempat memiliki krisis percaya diri, Cruz tidak berani melaju pada balapan pertamanya. Barulah ia secara tak sengaja benar-benar bertarung pada balapan yang sesungguhnya di Thunder Hollow.

Seperti film-film produksi Pixar Animation Studio yang selalu menyisipkan pesan moral, begitupun dengan film Cars 3. Film ini diperuntukkan bagi semua usia, jadi selain anak-anak yang terhibur dengan penampilan Lightning McQueen dan kawan-kawan, orang dewasa juga bisa memetik pelajaran dari sini. Apa saja yang menjadi highlight pada film yang disutradarai oleh Brian Fee ini?

images 1992096628. - Film Cars 3, Bukan Hanya Soal Balap

Friendship

Sejak film Cars yang pertama kali diliris tahun 2009 lalu memang selalu mengangkat persahabatan yang terjalin antara McQueen dengan Mater, si mobil derek yang sudah berkarat. Terutama pada Cars 2 di mana persahabatan mereka harus diuji dengan kepolosan Mater yang menyebabkan McQueen kalah saat mengikuti Wolrd Grand Prix di Jepang.

Di film Cars 3 ini masih tentang persahabatan, antara McQueen dengan teman-temannya selain Mater. Seperti Luigi dan Guido yang selalu menemani dan membantunya selama berlatih. Juga ada Smokey—teman lama Doc Hudson Hornet, yang memberikan pencerahan tentang bagaimana menjadi “Not faster than Storm but become smarter”.

Tapi yang paling menyentuh adalah cerita Dusty dan Rusty—pemilik Rust-eze, sponsor McQueen yang pertama. Rupanya Dusty dan Rusty para pemilik Rust-eze ini telah menjual seluruh sahamnya kepada sebuah mobil bernama Mr. Sterling, sehingga terwujudlah sebuah Training Center yang dapat mengakomodir segala kebutuhan McQueen dalam mencapai targetnya. Mereka menyadari jika Rust-eze tidak dijual kepada mobil yang tepat, tak sangguplah mereka menyediakan sebuah simulator untuk McQueen berlatih.

Kenapa coba film animasi tentang balapan kok bisa menggambarkan persahabatan yang se-dalam ini. Huhuhu. Kalau ditonton sambil lalu sih mungkin biasa saja. Tapi bagaimana, saya enggak pernah enggak serius saat nonton film ini. Rasanya kok ya bangga banget gitu sama Dusty and Rusty, LOL. Btw kita juga gitu kan ya, suka merasa ikut bahagia kalau teman, sahabat atau saudara kita sedang bersuka cita.

Inspiration

Nah, setelah dua bersaudara Dusty dan Rusty merelakan McQueen kepada sponsornya yang baru, cerita lain pun dimulai. Mr. Sterling rupanya telah mengidolakan McQueen sejak lama. Terbukti dengan beberapa koleksinya terkait Mc Queen, bahkan ia mengabadikan aspal dari sirkuit tempat McQueen pertama kali memenangkan balapan. Suatu kebanggaan bagi Mr. Sterling mensponsori McQueen sebagai pembalap andalannya. Seolah ditangannya, McQueen pasti akan kembali menjadi bintang yang bersinar.

Namun usia tak dapat berbohong, gengs. Meski sudah berlatih dengan fasilitas canggih, nampaknya McQueen masih tetap tertinggal dari Storm. Mr. Sterling pun menyiapkan hal lain baginya, berhenti balap dan menjadi bintang iklan saja. Tapi apa yang paling diinginkan oleh pembalap setelah lama ‘libur’ tentunya adalah kembali ke arena balap.

Mr. Sterling pun memberikan kesempatan bagi McQueen untuk mengikuti balapan di Florida yang sekaligus menjadi pertaruhan karirnya. Jika kali ini ia kalah maka ia harus siap untuk berhenti, tapi jika menang maka dirinya akan memutuskan sendiri kapan akan berhenti.

“I decide when I’m done”, katanya.

Sementara itu McQueen adalah inspirasi bagi mobil lain, yaitu Cruz Ramirez. Satu hal yang paling membuatnya bersemangat melatih McQueen adalah karena ia pun mengidolakan McQueen sejak kecil. Cruz bilang, “I grew up watching you on tv… I call you, my senior project.” Bukan cuma di dunia dongeng ya gengs, siapa juga yang enggak semangat kalau berhadapan dan harus berlatih dengan seseorang yang begitu menginspirasi sejak kita kecil?

“I grew up watching you on tv… I call you, my senior project.”

Trust

Awalnya McQueen merasa kagum terhadap Cruz Ramirez, tapi kelamaan perasaan itu mulai hilang karena ia menganggap Cruz tak becus melatihnya. Mana mungkin ia bisa jadi pemenang di Florida nanti, kalau Cruz selalu merepotkan dirinya. Bahkan kejadian Cruz menang di Thunder Hollow merupakan insiden tak menyenangkan bagi McQueen. Intinya McQueen tak bisa memercayai Cruz sebagai pelatihnya. Baginya Cruz hanyalah anak kemarin sore yang tak tahu apa-apa tentang balap mobil.

Tapi Cruz membuktikan dirinya hingga McQueen yakin bahwa pemuda itu bukan saja layak menjadi pelatih, tapi juga pembalap.

Memang ya, sebagai orang yang lebih berpengalaman kita kadang meragukan kemampuan orang lain. Padahal jika kita mau percaya pasti ada sesuatu yang bisa orang lain lakukan, lebih baik daripada yang kita lakukan. Awwww…

Passion

Film ini juga berbicara tentang passion. Bagaimana Lightning McQueen mempertahankan karirnya dan Cruz Ramirez yang semakin bersemangat saat berlatih bersama seniornya itu. Cruz merasa inilah dunianya, sesuatu yang sejak dulu dia inginkan.

Atas nama passion ini pula mereka berdua giat berlatih dari hari masih terang sampai gelap menjelma. Dari pantai, berpindah ke jalan berlumpur, sampai ke hutan belantara yang hanya diterangi oleh bulan purnama. Semua demi mencapai satu tujuan yaitu ‘balap’. Berawal dari ambisi untuk menang, hingga merelakan sebuah kesempatan demi kemenangan yang tidak biasa. Ah, epic!

Not Always Win

Overall film ini keren dan saya suka banget. Ceritanya lengkap dari persahabatan sampai profesionalisme. Dan satu lagi pesan yang saya tangkap dari film Cars 1, 2 dan 3 adalah not always win. Pada setiap film Cars, McQueen tak selalu melewati garis finish sebagai pemenang. Ia pernah memberikan gelar juara 1 kepada Hick Chick karena membela The King dari Dinoco. Ia juga pernah kalah melawan Francesco Bernoulli karena kelalaian Mater di Jepang. Bahkan sebelum kehadiran Storm, McQueen juga silih berganti menang kalah melawan kawannya Bobby.

Ketika iseng-iseng balapan di Thunder Hollow mungkin McQueen bisa saja menang, tapi saat itu ia lebih memilih untuk melindungi Cruz dari mobil-mobil liar yang kian menyerang. Jadi nih kayaknya McQueen tipe pembalap yang meskipun enggak memenangkan balapan tapi selalu bisa memenangkan hati penonton, gitu. That’s sweet.

And that’s a life, tak selamanya kita meraih kemenangan meski telah mengerahkan upaya terbaik. Makanya gengs, kalau sudah usaha segitunya saja masih bisa kalah, enggak usah kecewa kalau kita enggak menang sebab usaha yang seadanya.

Keep doing the best 🙂

 

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

6 thoughts on “Film Cars 3, Bukan Hanya Soal Balap

  1. Git Agusti says:

    Sampai saat ini saya tetap ga bosan kalo nonton Cars, bolak balik tetap mengasyikan.
    Suka sekali dengan perjalanan persahabatan Mc Queen dan Mater.
    Sayangnya belum nonton Cars 3, thanks spoilernya Mbak

  2. Endah marina says:

    Dari film ini banyak yang dapat kita petik ya, dari dulu suka dengan film mobil begini. Serasa kita yg ngendarain ini mobil hahaha .. keponakann saya setelah nonton ini langsung minta di beliin mobil2an seperti di cars 3 .. semoga semakin banyak film berkualitas seperti cars 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *