Suka Duka Menjadi Anak Kesayangan

Rasanya tidak cukup dengan nama saya yang orang-orang bilang sulit untuk diucapkan, saya malah memberi nama blog ini sebagai youngesteight.com. Yang mungkin nggak bisa dibaca sekilas pandang, melainkan harus dicermati. Nama ini sudah saya gunakan sejak pertama kali memiliki blog, dulu youngesteight.wordpress.com. Berasal dari kata young dan eight. Karena saya adalah anak bungsu (youngest) dari delapan (eight) bersaudara.

Di lingkungan tempat tinggal, saya sangat dikenal sebagai si bontot atau bungsu. Terkenalnya tuh karena si bungsu ini yang telah ditinggal bapak sejak masih bayi banget, kini sudah besar dan keren pula *uhuk!

Awal dibuatnya blog ini memang hanya sebatas untuk bercerita bagaimana kehidupan saya sebagai anak bungsu dari keluarga besar dan memiliki 20 orang keponakan. Very complicated tapi seru kadang juga lucu. Kalau kalian lihat di blog ini baru ada sekitar 30-an postingnya itu karena domain sempat expired lama dan ketika diaktifkan kembali postingan lama sudah raib.

Baca juga Youngesteight Returns

Pokoknya dulu sih memang menjadikan blog sebagai sarana curhat saja. Sekarang ya lumayan lah lebih terarah memberikan informasi dan pengetahuan kepada khalayak ramai. Ciyee. Meskipun isinya masih campur-campur, tapi Insya Allah saya ingin sekali dapat berbagi hal-hal bermanfaat bagi pembaca.

Khusus untuk postingan kali ini saya hanya ingin curhat saja. Tentang saya seorang anak bungsu, yang sering diidentikkan sebagai anak kesayangan. Jadi kalau nggak minat sama tema kali ini, silahkan cari artikel lainnya. Tapi carinya di blog ini ya, please. Jangan ke yang lain hahahaha.

Sedangkan bagi yang senasib seperjuangan mengemban predikat anak bungsu dan anak kesayangan, mari merapat. Mana tahu ada yang punya pengalaman sama dan bisa sharing—mudah-mudahan.

Predikat Anak Kesayangan

Waktu melahirkan saya, usia Ibu sudah menginjak 40-an. Sehingga dengan kakak-kakak usia kami terpaut amat jauh. Apalagi kakak pertama dan kedua ketika itu sudah pada punya anak. Jadinya keponakan saya usianya lebih tua daripada tantenya sendiri.

Dalam kasus saya ini, sangatlah wajar kalau dikatakan saya adalah anak kesayangan. Karena beberapa alasan yang masuk akal berikut ini.

Paling Kecil

Dua orang kakak yang nomor 6 dan 7 telah meninggal dunia sewaktu mereka balita, karena sakit. Kakak nomor 5 dengan saya bedanya 10 tahun. Maka saya amatlah kecil dibanding kakak yang mungkin saat itu sudah kelas 4 SD dan sudah bisa menggendong adik bayinya.

Kalau sama yang nomor 5 saja bedanya jauh, maka apa kabar dengan kakak nomor 1234? Ya jelas lah saya lebih kecil lagi. Mungkin bukan lagi sebagai adik, mereka merawat saya seperti anak sendiri.

Bukan hanya di kalangan keluarga inti, saya juga pernah jadi kesayangannya para Oom dan Tante ketika mereka belum punya anak. Saya nggak ingat, tapi tante cerita kalau menu favorit saya saat itu adalah sup buatannya.

Dimanjakan

Namanya di keluarga sudah pada besar-besar, sudah dewasa, lalu muncul bayi lagi di tengah-tengah mereka pastinya adik bungsu menjadi si kecil yang dimanjakan. Apapun keinginannya dituruti, bahkan tanpa meminta si adik sering dapat hadiah atau diajak jalan-jalan.

Ya begitulah yang terjadi sama saya. Meskipun nggak semuanya diturutin sih, kalau yang aneh-aneh pasti nggak bakal dikasih. Tapi saat kecil saya nggak terlalu minta yang aneh-aneh amat. Jadi memorinya dipenuhi dengan kisah-kisah dimanjakan.

Eh, ada deng yang paling aneh dan ngeselin itu adalah ketika saya nggak mau sekolah kalau nggak digendong karena becek habis hujan.

Saya Lucu

I can’t deny, kalau lihat foto-foto masa kecil saya memang lucu banget. Rambut bondol bermata sipit. Siapa coba yang nggak gemas sama anak selucu saya kala itu? Hahahahaaaa… Ya meskipun selain lucu saya mungkin ngeselin juga. Ihiks.

Suka Duka Anak Kesayangan

Enak banget ya kedengarannya kalau jadi anak kesayangan, siapa yang nggak mau. Tapi setiap hal itu selain sisi positif kebanyakan ada sisi negatifnya juga, ya kan?

Tentu saja anak kesayangan itu ya artinya disayang banget, paling disayang dibandingkan saudara-saudara lainnya. Anak kesayangan tak selamanya anak bungsu, loh. Bisa saja dia anak pertama atau anak tengah tapi yang prestasinya paling membanggakan luar biasa, atau karena alasan lainnya.

Yang katanya jadi anak kesayangan, atau punya saudara yang jadi kesayangan ibu bapak, ini dia suka-nya :

  • Diutamakan dalam banyak hal. Misalnya nih kalau ibu saya lagi pergi kemana gitu, oleh-oleh yang dibeli pertama kali untuk saya. Atau kalau ibu bawa pulang banyak oleh-oleh, saya suka kebagian dobel.
  • Mendapat perhatian dari seluruh keluarga. Sewaktu kecil perhatiannya mungkin yang lucu-lucu ya kayak udah mandi apa belum? Udah makan? And so on. Beranjak remaja, perhatian berubah jadi ke nilai-nilai mata pelajaran sekolah, teman-teman sepermainan, perilaku dan yang berhubungan dengan pertumbuhan anak remaja deh.
  • THR lebaran yang aduhai jumlahnya. Hahahahaaa. Yaah, namanya juga kesayangan ya nggak? Kalau ini sih bukan dari keluarga inti aja, tapi Oom, Tante, Nenek dan saudara jauh mesti ikutan kasih ‘persenan’
  • Tidak sungkan kalau mau minta apa-apa. Kayak pernah minta uang sama kakak buat nonton konser sheila on 7, atau minta ongkos sama abang buat jalan-jalan ke puncak. Sampai sekarang nih, abang saya masih mau loh nganterin saya kemana-mana kalau dianya lagi nggak sibuk. Santai aja, kan sama saudara. Hihi. Malahan kalau saya lagi repot, abang mau aja ngajak main anak saya sebentaran. Aaahh, super laaaffff

Emm… apa lagi ya? Pokoknya macam-macam sih sukanya tuh. Tambahin sendiri ya. Nah, terus apa ada sisi dukanya kalau jadi anak bungsu atau anak kesayangan? Ada, tauuuuk. Begini…

  • Predikat anak manja dari teman-teman. Mereka tahunya anak bungsu itu ya kesayangan dan manja-manja gitu. Ya iyalah, betul kok. Tapi, bukan manja yang gimana-gimana sih. Sewajarnya aja, namanya juga anak terakhir. Dan bukan manja yang malas nggak mau ngapa-ngapain di rumah. Lha saya mah dari SD udah belajar nyuci kaos kaki. *Eeeh kecil amat cuciannya.
  • Dianggap nggak bisa ngapa-ngapain karena biasanya dilayani sama orang rumah. Tolong deh ya, saya mah cuma anak bungsu, bukan putri kerajaan. Iseng banget sih mulutnya pake bilang ‘nggak bisa ngapa-ngapain’. Keseeeel.
  • Dikenal nggak bisa ketinggalan emak. Kalau yang satu ini memang saya akui, nggak bisa banget jauh dari Ibu saya. Mungkin karena bapak udah nggak ada kali ya, jadinya saya juga nggak pengin Ibu sendirian. Gitu… Eh tapi untuk point yang ini ada cerita super nyebelin waktu saya SD kelas satu. Itu ya, Ibu saya harus nongol di jendela sementara saya belajar di kelas. Kalau nggak gitu, mau nangis rasanya. Sebel nggak sih yang jadi ibunya?? Hahahahahahaaa. Sampai sekarang masih ada yang bilang saya ini tipe anak yang nggak boleh ketinggalan emaknya, termasuk mama mertua juga bilang gitu. Ihiiiks. Tapi ya saya terima lah, memang begitu kenyatannya.
  • Kurang dipercaya untuk melakukan tugas-tugas besar. Mungkin karena dianggap masih kecil kali. Sampai udah gede pun masih dianggap bocah haha. Tapi mayan deh nggak capek-capek kalau ada acara keluarga gitu gak kebagian tugas yang berat-berat. Palingan cuma beli plastik atau tissue di warung. Ahay!
  • Memiliki sifat cengeng. Kalau ini mah jangan ditanya ya… sebagai anak kesayangan saya mah mellow abis. Dikit-dikit sedih, sebentar-sebantar terharu. Baper, kalau kata anak milenial.
  • Bikin iri saudara yang lain. Ya iyalaaah, siapa yang nggak ngiri lihat salah satu anak dilebihkan kasih sayangnya. Tapi kayaknya kakak-kakak nggak ada yang iri sama saya deng! Hahahaha.

Udah, kira-kira begitu. Ini curhatan anak bungsu aja sampe seribu kata lebih yak. Biarin, jangan diprotes. Bisa-bisa anak bungsunya ngambek nih!

Dari pengalaman ini saya jadi mikir sih, sekarang udah punya anak. Nah gimana biar anak saya nggak manja kayak emaknya? Haha!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

3 thoughts on “Suka Duka Menjadi Anak Kesayangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *